Selamat datang.. Hingar bingar di sekeliling mari diambil hikmahnya, karena keadaan masyarakat akan berubah bila diri kita berubah. Salam hangat!

Thursday, May 7, 2009

sambil menanti kisah Rani dan AA


Di antara berita perkembangan munculnya nama-nama capres dan cawapres, ada sajian liputan yang gak kalah menarik perhatian kita, yaitu soal status Antasari Azhar sebagai tersangka dalam kasus terbunuhnya Nasrudin Zulkarnaen. Bener2 layak membuat kita bertanya-tanya.. Benarkah terjadi? Apakah cukup masuk akal? skenario politik kah ini?

Hanya ada 2 pilihan: permainan tingkat tinggi atau lebih tinggi lagi. Ini karena melibatkan oknum aparat, pengusaha, pembunuh bayaran. Rani Juliani sebagai "tokoh sentral" pun hilang, kemungkinan besar "dihilangkan" dari peredaran.

Berbagai macam opini berkembang, ada yg percaya ini kasus asmara, ada yg menduga ini konspirasi politik menjatuhkan kredibilitas KPK (baca: pemerintah), konspirasi dari komplotan koruptor, sampai ada yg beranalisa ini soal kredibilitas personal AA yg bermasalah di KPK. Sangat bervariasi dan tidak bisa ditebak.

Mungkin sebagian kita cukup menyesal dengan berita ini. Sungguh ironi, di tengah-tengah bersinarnya KPK yang telah mengkandangkan banyak koruptor, sang ketua malah ditetapkan sebagai tersangka oleh penyidik. Tentu saja kita tidak tahu secara pasti bagaimana AA menjalankan tugasnya di KPK, tapi paling tidak AA telah mengambil resiko berat atas kasus-kasus besar yang pernah ditanganinya. Alhasil, di permukaan kita melihat bahwa KPK cukup ditakuti di kalangan birokrat dan legislatif. KPK adalah drama pemberantasan korupsi yang terbaik yang pernah ada (mungkin terbaik di antara yang buruk ?). So, apabila memang tidak bersalah, dia bisa masuk dalam daftar segelintir orang yang berpengaruh di Indonesia.

Sambil menunggu titik terang yang entah seperti apa terangnya nanti, semoga KPK dapat terus melanjutkan agendanya. Proses pengusutan perkara NZ yang belum tuntas ini mungkin seperti teror bagi anak buah AA. Nyali tidak boleh mengendur, dan sikap tulus (tanpa pretensi politik) pemerintah sangat diperlukan dalam mem-push dan mensupport keamanan kinerja KPK. Memang tidak dapat dipungkiri, resiko jabatan sangat besar bagi penegak hukum yang benar-benar menjalankan tugasnya; nyawa diri dan keluarga bisa menjadi ancaman. Konsekuensi logisnya, apabila tugas mulia ini dijalani dengan sungguh-sungguh maka di samping telah menjalankan ajaran moralnya, popularitasnya di masyarakat akan meningkat secara cuma-cuma (tanpa bersusah payah kampanye mengumbar janji).

Perjalanan melawan korupsi masih panjang, berita terakhir menyebutkan di tingkat Asia Indonesia masih berada di kelompok urutan terdepan dalam hal korupsi. Untuk itu KPK harus terus bekerja, bahkan perlu memperbesar volume kerjanya. Skema organisasi dan sistem kerja harus dipertahankan karena terbukti efektif melakukan penyelidikan perkara korupsi.

Pemerintah memegang kuncinya, karena sesungguhnya KPK hanyalah kepanjangan dari pemerintah. Pemberantasan korupsi wajib menjadi agenda utama pemegang kekuasaan, karena korupsi mematikan sendi-sendi perekonomian yang ujung-ujungnya menyengsarakan rakyat.

Akhirnya, marilah kita nantikan proses pengusutan kasus ini. Hasil yang kita harapkan adalah tersibaknya kasus ini dengan gamblang, apapun penyebabnya. Jangan biarkan konspirasi tetap hidup! Apabila supremasi hukum bisa berjalan tegak, menghukum setiap orang yang bersalah tanpa pandang jabatan dan institusi, tandanya masih ada harapan bagi kemajuan bangsa ini.....!

Saturday, April 11, 2009

Seusai Pemilu Legislatif . . . what next ?

Belum bisa bernafas lega. Masih ada berbagai kemungkinan gara-gara pelaksanaan pemilu kali ini diwarnai banyak kesemrawutan. Makanya wajar saja beberapa dari mereka yang kurang beruntung dan yang mengambil sikap oposisi dengan pemerintah berancang-ancang mengambil tindakan upaya hukum.

Asalkan masih dalam koridor hukum yang jelas hal itu tidak ada masalah, dan memang begitulah seharusnya demokrasi. Tapi sepertinya tidak akan berujung pada kesimpulan bahwa pemilu inkonstitusional yang mengharuskan adanya pemilu ulang. Lebih mengarah pada penyorotan terhadap kinerja pemerintahan yang tidak berhasil, yang sangat mungkin akan digelindingkan sebagai isu untuk mengalahkan rival pada pemilihan capres mendatang. So, lebih kental dengan nuansa politik ketimbang segi hukumnya.

Paralel dengan hal di atas, perasaan senasib jadi korban ketidakberesan pemilu ini pun dimanfaatkan juga sebagai momentum untuk menggalang berdirinya blok partai oposan. Jadi, sementara ini ada 2 kutub yang tampak. Akankah ada poros alternatif yang dari kemarin sudah didengung-dengungkan oleh salah 1 partai? he he, maklumlah...

Apapun, all i can do is ngeliat aja rangkaian proses penentuan ini. Mudah-mudahan pemerintahan 5 tahun mendatang dipegang orang-orang yang tepat, karena mestinya inilah saat yang ideal untuk membangun kembali setelah periode reformasi. Lebih dari 10 tahun sudah negeri ini meninggalkan titik hitam krisis multidimensi. Dalam perjalanan 5 tahun ke depan akan terlihat secara fair : baik atau tidaknya kinerja pemerintahan. Tidak ada lagi bayang-bayang orde baru, tidak ada lagi bayang-bayang periode transisi. Mata rantai boleh dikatakan telah terputus dan tatanan telah tertata ulang.

Satu pe-er besar masa kini adalah bagaimana dapat eksis di tengah konstelasi perekonomian internasional. Kemerdekaan bangsa ditentukan dari ketangguhan kita menghadapi persaingan global. Indikator yang dapat kita tangkap sebagai orang awam adalah nilai tukar Rupiah. Yang lain mungkin perbandingan antara ekspor dan impor.

Dan, krisis global adalah tantangan pertamanya..


* Catatan :

Terimakasih kepada yang secara sengaja memilih golput, kiranya sudah tercapai tujuan mereka : delegitimasi pemilu. Banyak partai yang telah menyadari ini (kemenangan golput), semoga para anggota legislatif yang nanti duduk di gedung dewan itu melakukan perubahan mentalitas dalam tugasnya sebagai wakil rakyat.

Bagi warga yang ikut memilih, golput adalah sikap yang pasif, karena dengan memilih kita tidak hanya sekedar mengharap, tapi berupaya melahirkan tangan-tangan yang diharapkan mampu menegakkan kebaikan, menyuarakan keadilan, dan memberantas kebobrokan bangsa.
Bagaimanapun tidak akan ada titik temu langsung(antara pemilih dan golput), yang penting semua memiliki tujuan yang sama: indonesia yang lebih baik. Tentu saja apabila tidak didasari pada kepentingan golongan dan sesaat belaka.

Satu hal lagi, syukurlah banyak sekali partai yang perolehan suaranya di bawah parliamentary threshold. Sudahlah cukup 9 atau 10 saja partai untuk pemilu selanjutnya, atau bisa lebih sedikit lagi. Karena semakin banyak partai hanya akan menunjukkan kelas rendahan perpolitikan di negara ini!


Thursday, April 2, 2009

Situ Gintung

Baru di hari ke 6 tersadar, betapa tragedi Situ Gintung begitu memilukan. Potret dari jarak dekat dalam liputan di metro tv di antaranya mengkisahkan seorang ayah yang ditinggal mati oleh istri dan semua anak-anaknya. Kini dia kembali hidup sendiri setelah berpuluh tahun melewati manisnya kehidupan bersama keluarganya.

Situ Gintung tak ubahnya seperti tragedi tsunami Aceh dalam skala lokal. Air bah menerjang di pagi hari merenggut banyak jiwa. Kepergian para korban dan tangis kesedihan keluarga yang ditinggalkan sungguh tidak akan membawa makna manfaat apabila kita tidak mengambil hikmahnya.

Ada beberapa hal yang dapat kita ambil pelajaran. Pertama, bahwa bencana itu terjadi di pagi hari. Tentu kita ingat, 2 bencana sebelumnya juga terjadi di pagi hari yaitu tsunami aceh dan gempa di yogyakarta. Ketiga-tiganya telah merenggut banyak korban karena kebanyakan dari mereka tidak terjaga saat bencana datang. Dalam kondisi masih tertidur, tentu kesiapan pikiran dan tingkat spontanitas sangat rendah saat terbangun oleh suara / getaran bencana. Ada baiknya kini kita perlu membiasakan budaya bangun pagi, karena setidaknya hal itu juga baik untuk kesehatan tubuh kita. Bagaimanapun takdir tidak bisa kita hindari bila sudah saatnya, akan tetapi pikiran sadar kita selalu berhak untuk menghindarkan diri kita dari ancaman dan ketakutan.

Kedua, kebersamaan dengan keluarga dan masyarakat sesungguhnya adalah pemberian/ anugerah tiada terkira dari Tuhan, bukan suatu hak. Hari ini kita mungkin sedang bercanda ria atau berselisih dengan anggota keluarga, tetapi besok tidak ada jaminan masih bersama mereka lagi. Itu mungkin yang dialami oleh sebagian korban Situ Gintung. Sebelumnya mungkin tidak terpikirkan sama sekali, kejadian dahsyat akan menimpa mereka. Karenanya, haruslah kita mensyukuri setiap kebersamaan dengan penuh kasih sayang dan menghindari permusuhan. Dalam hal ini tidak ada perbedaan antara kaya dan miskin, semua tidak luput dari resiko ini. Apabila bencana datang, rumah akan rusak dan mobil mewah berserakan bak sampah. Apa yang patut dibanggakan dari hidup yang bukan berjalan dalam pengetahuan dan perencanaan kita?

Ketiga, inilah sisi kelam bangsa ini, di mana kita belum memiliki kesadaran untuk melakukan antisipasi. Benar-benar masih banyak yang luput dari pengamatan, atau tidak cermat dalam menyusun skala prioritas ??!! Bagaimana metodologi dan kinerja di departemen itu, bukankah mereka memiliki divisi penelitian dan pengembangan untuk menentukan mana-mana proyek yang urgent ? Atau apakah mereka tidak cukup punya teknologi untuk mengevaluasi sesuatu obyek sipil? Sungguh mengherankan... Kenapa obyek vital peninggalan Belanda yang jelas-jelas berusia lebih dari 50 tahun itu tidak di direhabilitasi kekuatan konstruksinya. Huh, kalau saja kabinet tidak berada di ujung masa kerja, mundurnya sang Menteri PU adalah keharusan !!

Berbicara lebih luas dari sudut ini, kiranya sangat beralasan untuk merasa aneh terhadap pengalokasian anggaran belanja negara kita. Bagaimana dasar penetapan APBN sehingga anggaran pendidikan mendapatkan angka sebesar 20% ??? Apakah pantas kita bangga telah mengucurkan dana yang besar di sektor pendidikan sementara masih banyak ancaman jiwa di sekeliling kita ? Apakah telah cukup anggaran di bidang pembangunan fisik dasar sehingga jiwa kita mendapatkan perlindungan yang memadai ? Dan lagi, apakah segenap jajaran pendidikan sudah siap mengelola kucuran dana sebanyak itu?? Ketergesa-gesaan penerapan anggaran tanpa didahului analisa yang cermat hanya akan mengakibatkan kebocoran di mana-mana !! Seharusnya perlu tahapan-tahapan yang harus dilalui agar anggaran dapat terserap secara efektif dan efisien. Seharusnya ditinjau kembali model penerapan anggaran yang secara membabi buta itu.

Bagaimanapun, keselamatan jiwa harus didahulukan sebelum pemenuhan kebutuhan-kebutuhan yang lain. Kalau kita mencermati ”fasilitas-fasilitas” publik di sekitar kita, sungguh kekurangan ada di sana sini. Di bidang transportasi misalnya, sering kita temui lebar jalan yg tidak sesuai kapasitas lagi, pengaman jalan tepi jurang/sungai tidak ada, trotoar tidak ada, rel kereta tanpa palang pintu dll. Di bidang lain kita juga temui : sungai-sungai yang mengalami pendangkalan sehingga banjir tahunan terus meluas, lemah / minimnya aparat dalam mengendalikan keamanan di masyarakat, sampai pada sulitnya akses kesehatan bagi warga miskin, semua itu perlu mendapat perhatian khusus (baca : anggaran khusus).

Penerapan teknologi dan sistem automatisasi pada fasilitas publik juga patut diutamakan di pos-pos yang rawan terjadinya human error ataupun rawan adanya sabotase pihak ketiga (kriminalitas). Seringkali kecelakaan (misalnya di sektor transportasi) terulang gara-gara minimnya support teknologi dan keteledoran petugas di lapangan, kecelakaan yang mana tidak / jarang terjadi di negara-negara maju. Saatnya memanfaatkan teknologi untuk meminimalisir dampak bencana, tidak hanya terhadap bahaya tsunami saja diaplikasikan teknologi tinggi (early warning system).

Bercermin dari serentetan bencana yang berakhir di Situ Gintung, tidak ada pilihan lain, Indonesia harus mempertajam sensitivitas di semua bidang, di setiap departemen, untuk lebih memastikan tidak adanya faktor kesalahan pengelolaan sehingga dapat meminimalisir jatuhnya korban jiwa. Tidak sekedar latah hanya mengurusi waduk di setiap daerah, tp juga wajib segera menilik berbagai bidang yg lain : kesehatan, makanan, sosial, hukum dan kriminalitas, dll. Dengan demikian semoga di masa mendatang Indonesia tidak ada lagi kekagetan-kekagetan akibat bencana yang berada di luar pengamatan kita. Karena bencana bukanlah bencana alam semata, tetapi banyak hal yang dapat menyebabkan kebinasaan dan kesengsaraan manusia, dari yang kasat mata, hingga yang bersifat laten : bencana moral.

Tuesday, March 10, 2009

Rupiah dari Emosi si Bintang Cilik di Media Televisi

Sesekali menemani anak menonton tayangan Idola Cilik di RCTI, ada 1 segmen yang membuat prihatin, yaitu pada saat pengumuman hasil rapor. Sebenarnya hal semacam ini adalah pemandangan yang biasa di setiap show kontes yang digelar berbagai stasiun TV bahwa di akhir suatu sesi pementasan akan ada pengumuman nilai yang seringkali didasarkan pada perolehan jumlah sms yang masuk.


Sudah menjadi resep umum, keberhasilan suatu acara kontest idola tidak luput dari adanya unsur emosional yang kental di dalamnya. Masyarakat diajak untuk larut dalam suasana mendukung seorang bintang favoritnya agar dapat melaju ke babak selanjutnya. Untuk tujuan itu, dibuatlah segala sesuatunya agar menciptakan suatu kesan drama emosi yang di dalamnya ada tawa, tangis, tegang, kaget, sedih, gemas, dll. Semakin emosi pemirsa teraduk-aduk maka diyakini akan semakin tinggi pula rating acara, dan yang tidak kalah penting adalah semakin banyak sms dapat terjaring.


Sesi pengumuman nilai pun tidak luput dari obyek dramatisasi ini, bahkan tampaknya menjadi spot yang sangat berpengaruh. Berbagai bentuk skenario pengumuman dibuat, dari yang mengundang gelak tawa, hingga yang dirancang untuk mengundang tangisan (bila perlu sampai pingsan).


Idola Cilik, sebagai kontest idola yang diikuti oleh anak-anak, ternyata juga menjadi sasaran ini. Di sesi pemberian rapor nilai tersebut diketengahkan adegan yang sangat menegangkan bila diukur dari kapasitas psikologis anak-anak yang rata-rata berusia 6 tahun.


Rangkaian ceritanya adalah, seorang peserta diminta berdiri sendirian di tengah panggung. Diiringi alunan musik yang beritme monoton dan tegang, si bocah berdiri cukup lama layaknya orang yang menunggu hukuman. Presenter pun dari kejauhan memainkan perannya dengan memberikan kata pengantar yang bertele-tele dan menggunakan uraian kata dan logat yang sangat serius. Peserta kemudian diberikan kertas kotak besar simbol dari buku rapor. Setelah menerima "buku" itu, peserta tidak boleh langsung melihat hasilnya, tetap harus menanti dan melewati lagi suasana yang memacu detak jantung.

Menghadapi moment itu, kebanyakan dari peserta yang belum punya dosa itu terlihat tegang. Selain karena image - yang diciptakan - bahwa kekalahan sangat menyedihkan, juga karena rentang waktu terhitung demikian lama untuk sekedar mendapatkan kepastian hasil. Kadang bahkan diselipkan iklan!

Tampak sekali ketegangan dan ketakutan mereka walaupun mencoba membalutnya dengan senyuman. Sepertinya itulah yang diharapkan oleh produser acara agar pemirsa merasa iba. Maka sang kameramen akan men-close-up raut si bocah agar masyarakat bisa menangkap betapa si bocah begitu "merana"...

Kenapa anak-anak diperlakukan seperti itu? Dengan kondisi psikologis yang masih dini, hal itu sangat mungkin menimbulkan trauma meskipun mereka terbiasa beraksi di depan ribuan orang. Bernyanyi dan menari sangat berbeda keadaannya dengan berdiri kaku dan di"hakimi".


Menjadi teringat pada suatu kontest idola kelas dewasa, seorang ibu dari peserta gadis remaja bisa jatuh pingsan lantaran sangat larut dalam skenario dramatisasi di acara tersebut. Nah, si ibu saja bisa sedemikian rapuh menghadapi ketegangan, lantas bagaimana dengan nasib anak-anak itu?

Begitukah gambaran dunia pertelevisian kita saat ini? Masih banyak yang perlu disoroti di luar fenomena si Ponari yang dipandang beberapa pihak sebagai sebuah kasus eksploitasi anak.

Friday, March 6, 2009

SMS atau Email bertuah

Beberapa hari yang lalu saya menerima [lagi] sms rejeki. Kalau saya mem'forward' sms tersebut ke beberapa orang, maka dijanjikan bahwa besok akan ada kabar baik dan rezeki besar.

Bulan-bulan yang lalu pun ada beberapa email sejenis, bahwa siapa yang mem'forward' akan mendapat keberuntungan besar, sedang yang tidak mengindahkan / mendelete dikabarkan akan ditimpa bencana.






Secara umum, SMS atau email semacam itu biasanya mengandung beberapa point :

1. Kebanyakan isinya bermuatan religi yang baik dan mengajak kebaikan. Kadang merupakan respon terhadap problema aktual yang seharusnya dapat memberikan penyadaran spiritual yang sangat bermanfaat.
 

2. Keharusan untuk memforward, disertai ancaman dan janji yang disampaikan dengan mengkait-kaitkan unsur keagamaan, ada yang disertai bukti-bukti kejadian yang kebenaran dan keterkaitannya patut diragukan.
 

3. Kadang menyertakan nama nabi atau tokoh agar nilai pesan semakin kuat dan berpengaruh.





Beberapa motivasi yang mungkin melatarbelakangi pembuatan email atau sms itu di antaranya :

1. Keprihatinan akan kondisi sosial atau umat, sehingga ingin mengingatkan masyarakat agar kembali ke jalan yang benar. Mungkin pesan orisinilnya tanpa embel-embel seruan untuk memforward, lalu di tangan berikutnya dikembangkan penambahan-penambahan. 
2. Iseng, sekedar untuk mendapatkan kepuasan bahwa 'karya'nya akan menyebar luas. Mereka ini tidak memahami agama dengan baik, sehingga merangkai-rangkai kata dengan serampangan dan bahkan mencetuskan hukum sendiri.
 

3. Kepentingan bisnis pihak tertentu, bisa jadi.






Bagaimana dampak yang akan ditimbulkan :

1. Pesan intinya akan sangat kecil atau bahkan tidak ada dampaknya ke masyarakat. Yang terjadi adalah orang lebih terfokus pada pesan 'sekunder'nya, yaitu soal keajaiban akibat memforward.
 

2. Sebagian orang memperlakukannya seperti mantra. Di sini pesan itu akan langsung diforwardkan, begitu dijunjung tinggi. Bukannya akan merubah prilaku dengan menjalankan pesan inti dengan baik, tapi malah menunggu sesuatu yang akan terjadi. Hal ini berpotensi menimbulkan kesyirikan, yaitu percaya adanya kekuatan supranatural dari selain Tuhan. Karena, tentu dia tahu bahwa Tuhan tidak pernah memberikan janji-janji yang akan datang pada 1 hari lagi, 2 hari lagi, seminggu lagi dll. Apabila dia belum pernah tahu tentang firman Tuhan dalam kitab suci, maka janji-janji dalam SMS atau email akan mengakibatkan kesesatan baginya.
 

3. Pemahaman terhadap agama akan mengering. Nilai-nilai agama seharusnya diterapkan secara luas dalam kehidupan yang nyata. Efek yang ditimbulkan dari kehidupan beragama yang baik, tidaklah tanpa sebab dan tidak pula datang dengan sekonyong-konyong. Hal-hal yang bersifat mu'jizat nyata tidak akan terjadi, kecuali bila terdapat dalam kitab suci dan itupun akan sangat langka. Akan tetapi, bagi orang yang percaya dengan SMS / email tersebut, mereka akan menganggap bahwa agama harus mendatangkan keajaiban instant. Apabila setelah memforward SMS lalu tidak muncul keajaiban, boleh jadi keyakinannya terhadap agama akan berkurang.
 

4. Spam. Sebagian orang akan menganggapnya spam.












  








Masyarakat luas mestinya memahami bahwa sistem penyebaran informasi baik melalui SMS maupun email bukanlah sistem yang dapat dipertanggungjawabkan. Sistem ini sesungguhnya tidak berbeda dengan tradisi penyebaran berita dari mulut ke mulut, karena SMS atau email bisa diedit dengan mudah. Jangankan kata-kata, foto/video/rekaman suara saja sangat mungkin dimanipulasi dengan rapi.