Selamat datang.. Hingar bingar di sekeliling mari diambil hikmahnya, karena keadaan masyarakat akan berubah bila diri kita berubah. Salam hangat!
Showing posts with label prinsip dasar. Show all posts
Showing posts with label prinsip dasar. Show all posts

Wednesday, February 20, 2013

Tentang Takdir (1)

Semua yang terjadi adalah takdirNYA. Termasuk hujatan-hujatan kepadaNYA, adalah juga takdirNYA.
Hujatan-hujatan yang dilontarkan tanpa emosi karena hendak memprovokasi, ataupun hujatan yang memang disampaikan dengan emosi, adalah takdirNYA.

TakdirNYA memang demikian, ada yang baik, ada yang buruk.
Ada peperangan yang dilatarbelakangi saling emosi pada keduanya,
Ada peperangan yang dilatarbelakangi persepsi suci pada keduanya,
Ada peperangan yang dilatarbelakangi kombinasi pada keduanya,
Semua adalah takdirNYA.
—

Dan manusia adalah agen takdirNYA.
Takdir baik, takdir buruk.
Namun manusia diberikan penglihatan, pendengaran, dan hati, seharusnya membuatnya tahu mana yang baik dan mana yang buruk. Mana takdir neraka, mana takdir surga.
Sehingga manusia adalah agen bebas, untuk memilih tempat takdirnya sendiri.
Kalau dia mau, mampu lah manusia berganti takdir. Dari takdir baik ke takdir buruk. Dari takdir buruk ke takdir baik.

Tapi memang, untuk berganti takdir dari yang buruk ke yang baik itu harus menangkap energi. Energi perasaan. Sehingga mungkin terasa tak masuk akal untuk berpindah dari takdir buruk ke takdir baik. Mungkin berat, luar biasa berat.
Atau bahkan diri merasa telah berada di takdir baik, padahal sebenarnya di takdir buruk? Maka hanya dirinya sendiri dan Tuhan lah yang tahu.
—

Bagi yang percaya dengan takdirNYA, melihat berbagai kejadian seharusnya tidak membuat diri terheran-heran. Bahkan benci atau senang pun, seharusnya tidak, atau setidaknya sedikit atau sebentar saja.
Karena yang sudah terjadi adalah takdirNYA.
Apakah dengan terjadinya takdir buruk di sekitar lantas menyalahkan Tuhan? Tidak, mana berani menyalahkanNYA.
Apakah dengan terjadinya takdir buruk di sekitar lantas heran? Tidak, karena apa yang diperbuatNYA memang bisa dahsyat. Tak ada yang perlu diherankan.
—

Tetapi bagaimana terhadap manusia sekitar yang telah menjalankan takdir buruk? Manusia harus hormati dia, karena dia seperti itu atas kehendakNYA. Bagaimana mungkin manusia bisa melecehkannya, itu sama saja melecehkan kehendakNYA? Apa mau berurusan dengan Tuhan soal pelecehan itu? Tentu tidak, tidak berani.

Namun, kepada pelaku takdir buruk yang melanggar hak manusia lain, sudah sepatutnya bagi manusia yang percaya Tuhan untuk bersikap, yaitu berusaha mengembalikan hak manusia lain yang telah direbut. Itupun apabila manusia yang telah dilanggar haknya tidak memaafkan. Itupun harus dengan prosedur yang telah ditetapkanNYA, di antaranya adalah dengan strategi (akal).

Pengambilan sikap yang demikian, bukanlah menentang telah terjadinya takdir buruk, tetapi usaha diri agar selanjutnya menetapi takdir baik sesuai yang telah digariskanNYA. Dan, Tuhan tidak silau dengan usaha-usaha manusia yang bermotifkan kebaikan. Bercampurnya tindakan-tindakan buruk di antara yang baik, akan diperhitungkanNYA dengan teliti. Dan pada akhirnya, itupun adalah takdirNYA, bahwa seorang manusia setiap saat boleh jadi sedang menjalankan takdir buruk dan takdir baik sekaligus.
—

TakdirNYA, baik dan buruk.
Manusia adalah agen takdir itu. Tetapi setiap manusia sudah ada yang mengurusnya, yaitu Tuhannya. Tak layak bagi manusia untuk membenci ciptaanNYA. Dan boleh jadi Tuhan memiliki rencana yang lebih baik untuk dia dibanding ke diri sendiri. Manusia bisa apa? Mengurus diri sendiri tak akan mampu. Semua urusan adalah milikNYA.

Yang bisa dilakukan manusia atas manusia lain, hanyalah sebatas membenci tindakan buruk, bukan pelakunya. Karena yang tahu tentang manusia lain, adalah dia dan Tuhannya. Manusia tak akan bisa tahu, tanpa diberitahuNYA.

Ya, manusia memang bisa menduga. Tetapi dugaan itu hanyalah layak untuk diri sendiri, tak pantas untuk dijadikan alat perampasan hak atas orang lain tanpa dasar.
—

TakdirNYA …..
Wallahu a’lam

Yang Kutahu Pasti tentang Tuhanku

  1. DIA lah yang meng-ada-kan kesadaranku dalam sejarah manusia, sehingga aku dapat mengungkapkan rasa terimakasih padaNYA. Itulah kebaikan pertama dan terutama. Sebagai reaksi (yaitu berterimakasih) atas aksi terbesar yang aku terima (di-ada-kan) untuk keseimbangan hidup. Rasa terimakasih yang tak hanya di pikiran (mulut) saja, tetapi terwujud nyata dalam tindakan (respon positif terhadap perintah dan laranganNYA) yang mendukung kesejatian diri.

  2. DIA lah yang menyuruhku berbuat baik setinggi-tingginya untuk diri sendiri dan alam. Juga menyuruhku untuk menggunakan akal dengan sebaik-baiknya.

  3. DIA lah yang memberikan pengajaran sehingga dapat tertanam keyakinan dalam diri sebagai dasar yang kokoh tempat bersemayamnya segala kebahagiaan.

  4. DIA lah yang menjanjikan hasil kebaikan di masa depan, sehingga aku bertahan terhadap usaha kebaikan yg tak menghasilkan di masa kini. Dengan keyakinan itu, kebaikan selalu terpancar ke diri dan ke alam dengan tak henti-hentinya, tak terganggu oleh keadaan negatif apapun.

  5. DIA lah yang memberi cahaya hakikat nasib akhir jagad raya yang dahsyat ini, dan mengkabarkan kebahagiaan dan kesengsaraan kehidupan di masa depan. Dengan keyakinan itu, eksis lah berbagai upaya “sebab” yang terdedikasikan untuk “akibat” di kehidupan selanjutnya (kedua). Sebab-sebab kebaikan tertuju kepadaNYA sebagai Yang memasang neraca keadilan di jagad raya ini. DIA lah yang memastikan bahwa mustahil ada aksi yang tak menghasilkan reaksi, termasuk pada ranah batiniah. Tak ada kesadaran yang bakal dirugikan. Pada akhirnya, keyakinan ini melahirkan ketenangan karena jawaban yang tuntas atas pertanyaan dan penasaran alamiah seputar ketidakadilan dan berbagai misteri kehidupan.
—
Tulisan di atas memang baru sebatas semangat karena belum teraplikasikan seluruhnya. Mencoba untuk memahami Tuhan dalam bingkai “persepsi” yang menciptakan kebahagiaan dalam diri. Sejenak membebaskan diri dari berbagai paham “obyektif” tentang Tuhan yang melelahkan dalam perdebatan.

—
Pada setiap relasi antara individu A dan B selalu memiliki dampak eksternal (obyektif) maupun internal (subyektif). Dampak eksternalnya adalah perlakuan B ke A atau A ke B. Dan dampak internalnya adalah perubahan pada masing-masing diri A dan B.
Sedangkan relasi antara manusia dengan Tuhan, hanya akan berlaku dampak eksternal dan internal pada manusia, dan tidak berdampak apapun kepada Tuhan yang maha. Namun, ketika dampak eksternal pada manusia tak mudah untuk diulas di antara sesama, maka dampak internal menjadi hal yang penting untuk dijadikan salah satu pendekatan.
—

أَعُوذُبِاللَّـهِ مِنَالشَّيْطٰنِ الرَّجِيمِ
Katakanlah: “Hai manusia, sesungguhnya teIah datang kepadamu kebenaran (Al Quran) dari Tuhanmu, sebab itu barangsiapa yang mendapat petunjuk maka sesungguhnya (petunjuk itu) untuk kebaikan dirinya sendiri. Dan barangsiapa yang sesat, maka sesungguhnya kesesatannya itu mencelakakan dirinya sendiri. Dan aku bukanlah seorang penjaga terhadap dirimu”. (Yunus:108)

Tentang Kesadaran (3 - habis)

Sesuai dengan keberadaannya yang pasti, kesadaran menuntut kepastian.
Tetapi itu tak bisa dijawab oleh akal manusia. Karena akal manusia tak bisa memberikan produk atau hasil yang pasti. Berbagai kemajuan yang telah dicapai, berbagai teknologi yang telah ada, nyatanya tak juga memberikan jawaban yang memuaskan bagi kesadaran. Berbagai kemajuan itu ternyata hanyalah menambah gulungan spiral pertanyaan. Semakin besar dan semakin besar saja spiral itu. Tak ada jawaban yang menjadi penutup kurva spiral itu.
—

Siapakah aku? Kenapa aku ada? Bagaimana nanti? Kenapa ada ketidak adilan? Selamanya akal diserang rentetan pertanyaan paling mendasar. Padahal hidup harus berjalan dengan ketenangan, dalam mengarungi berbagai problema. Dan ketenangan itu hanya bisa dicapai manakala kesadaran mendapatkan jawaban yang pasti.
—

Seharusnya akal manusia tak perlu melontarkan kebohongan terhadap kesadaran dengan mengatakan:
“Pengetahuanku ini pasti! Hidup ini hanya sekali! Mati sekali untuk selamanya!”
“Akhirat itu tak ada! Tuhan itu pasti tak ada! Jadi ayo lanjutkan hidup bebas tanpa Tuhan!” 

Sedangkan pada kesadaran itu tak pernah sekalipun disajikan bukti atas kematian yang selamanya, karena jelas-jelas manusia tak sedang berada di ujung waktu. Nenek moyang memang tak ada yang bangkit lagi, tetapi kesimpulan itu hanya berlaku pada saat-saat sekarang saja. Nyatanya waktu mungkin akan terus bergulir hingga milyaran tahun lagi, apapun bisa terjadi dalam jangka waktu selama itu.

Karenanya, kesadaran akan menjawab balik:
“Manusia telah berbohong! Boleh jadi hidup ini lebih dari sekali! Dan jikalau benar hidup lebih dari sekali, bagaimana dengan hidup selanjutnya?”
Pertanyaan itu, dan pertanyaan yang lain terus menggema dalam perjalanan hidupnya.
—

Maka bagaimanakah untuk mengatasi kesadaran itu..?
Kejujuran!
Kejujuranlah jalan yang mendamaikan antara manusia dengan kesadarannya. Kejujuranlah yang mempertemukan manusia dengan kesadarannya. Kejujuran mungkin tak menyelesaikan persoalan di luar, tapi setidaknya dalam diri telah ada sikap menghargai. Seakan manusia berkata dengan kesadarannya:
“Ya, saya akui, saya memang tak mampu memenuhi permintaanmu.”
Nah!
Tak dinyana! Itulah jawaban terhadap spiral pertanyaan yang selama ini dilontarkan dalam kesadaran! Itulah penutup kurva yang selama ini dicari-cari! Memanglah manusia itu lemah. Itulah kepastian yang dibutuhkan oleh kesadaran!
—

Lantas? Bagaimana dengan persoalan di luar? Adakah solusinya?
Tak ada jawaban! Hanyalah kepasrahan!
Pasrah sebagai konsekuensi dari kejujuran. Pasrah dengan kelemahan dan keterbatasan! Pasrah dengan apapun yang terjadi nanti! Karena memang tak ada yang bisa dipastikan tentang keadaan di masa depan. Alam dan lingkungan benar-benar tak bisa diperkirakan. Apakah besok mati, apakah besok akan kehilangan sesuatu, apakah besok akan bahagia? Sengsara? Sukses?
Pasrah!
Pasrah dari segala akibat. Pasrah dengan potensi diri. Pasrah dengan usaha yang tak tahu hasilnya. Pasrah menanggung kenyataan. Pasrah menanggung penderitaan.
—

Tetapi cobalah kita lihat! Hukum kehidupan seakan berbalik akibat dari kepasrahan.
Banyak sekali kepasrahan yang justru menolong.
Milyaran bayi yang di dunia ini hanya bisa menangis dan berpasrah, ternyata banyak yang terus hidup tanpa disadarinya.
Begitu juga dalam dunia satwa. Kepasrahan menghadapi ganasnya pemangsa seringkali justru menyelamatkan.
—

Kepasrahan adalah titik tolak yang luar biasa. Banyak manusia mencapai keberhasilan setelah pasrah dengan keterpurukan. Kepasrahan untuk tak meratapi keadaan. Menjadi energi yang luar biasa untuk bangkit .
Bagaimana pula apabila kepasrahan tak juga menolong?
Tetap berpasrah!
Nyatanya memang hanya itu yang bisa dilakukan. Bersiap dengan segala keadaan. Dan lihatlah sekali lagi! Kepasrahan itu nantinya akan mengurangi rasa sengsara.
—

Para Nabi adalah teladan yang sempurna tentang kepasrahan manusia. Maka dari itulah Tuhan memberikannya titik balik yang dahsyat bagi kehidupan! Cahaya kehidupan yang terang benderang!
Segala rahasia hidup terbuka lebar, memberikan kebahagiaan tiada tara bagi kesadaran! Terjadilah resonansi antara kesadaran dengan kehidupan! Sungguh dahsyat!
Ritual, dogma, pengorbanan, kesemuanya mencerminkan kepasrahan manusia secara nyata!
—

Kejujuran tentang ketidaktahuan manusia kini termanifestasikan secara lugas dengan ritual, dogma dan pengorbanan itu. Kejujuran kini tidak sekedar kalimat penghibur. Kepasrahan tidak sekedar gambar penyejuk mata.
Kejujuran dan kepasrahan menjadi nyata! Ya, nyata ketika diri yang merasa bodoh itu tetap menjalankan hal-hal yang tak sepenuhnya dimengerti, atas dasar kepercayaan kepada para Nabi yang sempurna dalam kepasrahannya. Atas nama Tuhan yang Maha Mengetahui segala misteri.
Dan lihatlah.. rasakanlah.. betapa ritual, dogma, dan pengorbanan itu memberikan titik balik yang hebat. Keberanian, kemantapan, kesungguhan, ketangguhan, kesabaran berakar dan bertumbuh kuat dalam diri. Memberi energi hidup tanpa henti. Keselamatan kebahagiaan yang mengatasi keadaan, melampaui kematian.
Itulah, Kejujuran dan Kepasrahan!

Dan di akhirat nanti, boleh jadi kesempurnaan dan keberuntungan kan terwujud atas restu Sang Pengajar, Pemilik Kehidupan dan Kesadaran.
—

Kini, siapakah aku? Siapakah kita?
Beranikah berdamai dengan kesadaran ?
Entahlah :(
—
Wallahu a’lam

Wednesday, January 9, 2013

Matematika dalam Pendekatan Pemahaman Relasi Tuhan - Makhluk

Ini adalah respon sederhana terhadap tulisan Kompasioner yang berjudul “Logika Tuhan, Logika Matematika”

Kenapa aljabar / aritmatika tetaplah sebagai ilmu ide (bukan ilmu kongkrit), karena bilangan sebagai komponennya tak bisa didapatkan oleh akal secara sempurna di dunia empiris. Yang ada hanya pendefinisian yg sifatnya terbatas/ pendekatan saja.

Misal dalam operasional matematika ada variabel “1 kelereng”. Apakah kita bisa mendapatkan 1 kelerang “murni” pada level empiris? Saya yakin tidak bisa, karena sebuah kelereng pasti mengandung “zat2 & gelombang non-kelereng” yang menempel di kelereng itu saat sebuah kelereng kita tunjuk. Maka komponen operasional “1 kelereng” yang ada di atas kertas pada dasarnya tetaplah suatu ide belaka.

—–

Apabila kita hendak menyandingkan antara Tuhan dan Matematika, maka menurut saya begini :

Bilangan-bilangan dan operasional standar matematika itu identik dengan makhluk, bukan tentang Tuhan itu sendiri. Sedangkan Kegaiban Tuhan itu ada pada ranah “Tak Terhingga” ( ~ ) yang merupakan hasil operasional istimewa : Bilangan dibagi dengan Nol ( ~ = x / 0 ). “Tak Terhingga” tak mampu tersusun oleh bilangan, tetapi bilangan-bilangan adalah bagian dari “Tak Terhingga”.

Kesimpulan dari semua uraian di atas, bilangan itu sendiri sudah merupakan sesuatu yang “tak dapat sempurna dijamah”, sedangkan “Tak Terhingga” itu merupakan sesuatu yang “mustahil untuk dicapai” oleh bilangan.

Tuhan mustahil dicapai oleh manusia dengan keterbatasan dirinya. Tuhan lah yang menunjukkan kepada manusia suatu cara pengenalan kepada diriNYA melalui caraNYA sendiri, yang bisa disebut dengan suatu kode. Kode itu adalah agama, yang apabila dibahasakan secara matematika (sebagai bahasa yang paling dasar) adalah operasional x / 0, di mana x = bilangan.

Lihatlah bagaimana x / 0 yang bisa = ~ . Bandingkan dengan kemampuan manusia kalau toh mencapai 999.999.999.999.999.999.999.999 sekalipun, maka itu tetaplah tidak bisa menjangkau ~ .

Sekilas bisa dibantah, bukankah kode “x / 0” bisa ditemukan sendiri oleh manusia?
Ya, bisa karena x / 0 hanyalah penemuan matematika yang sifatnya ide belaka. Dalam tataran realitas manusia, mencapai keadaan 0 mustahil bisa, sebagaimana di depan diterangkan bahwa untuk mendapatkan fakta 1 kelereng, kita tak akan mampu. Maka sekali lagi, manusia yang terbatas tak bisa membuat jembatan antara dirinya dengan Tuhan. Tetapi Tuhan yang tak terbatas itulah yang bisa.

Sebagai kode kehidupan, agama adalah “kombinasi kompleks” yang mencakup semua ilmu. Manusia tak akan bisa menguak hakikat agama, tetapi manusia bisa menganalisa secara terbatas terhadap agama melalui pendekatan-pendekatan keilmuan.

Sadar Diri (tentang kesabaran)

Sikap bersabar yang diajarkan oleh Tuhan ternyata sebuah pengajaran yang sangat mendasar, tentang penerimaan diri sebagai makhluk. “Sadarilah wujudmu sebagai makhluk”
Coba kita lihat:
  1. Makhluk berupa materi, dan materi pasti ber-ukuran. Dengan ukuran, maka ada jarak, ada ruang. Untuk berpindah ke tempat yang diinginkan butuh bergerak. Bergerak melewati suatu jalan yang terdiri dari satu persatu titik. Maka pasti ada proses untuk melewati satu per satu titik sebelum sampai ke titik yang diinginkan. Proses memakan waktu, sehingga butuh kesabaran.

  2. Dengan ukuran, maka berbilang, materi pun jadi banyak. Sesuatu yang banyak, suatu saat mengalami antrian untuk mencapai tujuan yang sama. Maka manusia butuh kesabaran.

  3. Dengan ukuran maka ada perbedaan-perbedaan energi. Maka ada perbedaan zat, dan perbedaan organisasi zat, sehingga ada perbedaan makhluk. Dalam makhluk yang sejenis pun ada perbedaan energi. Maka lagi-lagi manusia butuh kesabaran dalam menghadapi perbedaan.
Maka sudahlah, bersabarlah saja jadi makhluk, itulah takdir kita. Teknologi bisa saja mempermudah, tapi takdir berproses selamanya tak akan punah. Takdir mengantri selalu ditemui.

Dan nikmatilah saja, karena dengan perbedaan-perbedaan energi, maka ada penambahan dan pengurangan energi. Dan pada hal-hal energi itu sesungguhnya terdapat rahasia besar, yaitu peluang makhluk untuk merasakan kenikmatan. Bahkan Tuhan selalu memberikan nilai tambah dengan mekanismeNYA. Maka bergeraklah di antara tingkatan energi itu lalu carilah kenikmatan sebanyak-banyaknya. Dan jauhilah peluang menjadi pesakitan, dan jadilah makhluk yang sukses.

Tapi, eitss.. rupanya ada yang tak terima dijadikan makhluk?
Si nafsu ya? Ini dia, nafsu tak ingin ada proses. Nafsu tak ingin mengantri. Nafsu inginnya yang langsung-langsung, seolah mau jadi tuhan saja. Wah wah.., kendalikanlah nafsu itu.. bahaya lah, karena ia hendak menentang takdir. Alih-alih membawa pada kenikmatan-kenikmatan, yang ditemui nanti malah kesengsaraan…waspadalah…!

Belajar "Membaca" Kitab Suci (1)

Sebagian orang mungkin nyeletuk, “Ini isinya cuman begini, apanya yg hebat?”

Pertama, sudahkah membaca secara menyeluruh? Karena manusia hidup dlm keadaan menyatu dari ujung jari, akal hingga jantungnya, sehingga yang tepat baginya adalah paket pengetahuan yang utuh-menyeluruh pula. Kedua, sudahkah mencoba membacanya dengan perangkat baca yang lengkap, di antaranya dengan kepekaan mata hati? Terakhir, ketika ingin mengkritisi, apakah sudah menggunakan kesepakatan / landasan yang sama, yaitu tentang paket keimanan?

Di point kedua menyinggung soal hati? Apalagi itu, kan hanya fenomena saja?
Wah, ya terserah saja kalau hati hanya dianggap fenomena tak penting, karena nyatanya faktor fenomena itu mampu mengobrak-abrik tatanan hidup, mampu membutakan diri sehingga mengingkari fakta-fakta materi dan rasio. Mampu membuat hidup hambar, pikiran kosong, frustrasi, depresi, hidup segan mati tak mau, bunuh diri, gila, dan lain sebagainya. Jadi layak kah mengingkari hati, sedangkan ia sangat mungkin akan teraduk-aduk dengan sendirinya di antara dinamika hidup yang tak terduga-duga: kematian seseorang yg dibutuhkan, mendapat rejeki besar, kecelakaan fisik, mendadak terkenal hebat, dirampok, mendapat peluang bisnis besar, diteror, diperkosa?

Kitab suci mengetuk dan mengelola hati, menggugah kesadaran sebagai makhluk, menumbuhkan rasa akan adanya kasih-sayang Tuhan tak terbatas, mengajak manusia menikmati hidup bahagia kekal di atas semua keadaan.

Bahagia di atas semua keadaan? Memang tak mudah bagi yang mau mudahnya saja, tetapi bisa diraih bagi yang bekerja keras memfungsikan potensi utuh dirinya. Dan ketika ada sederet kisah manusia mulia yang telah membuktikannya, maka itu seharusnya memberikan keyakinan bahwa konsep dari Kitab Suci adalah benar adanya. Itu bukanlah hal yang utopis, mengingat kitab suci sebagai Firman Tuhan pastinya berkompeten dalam memperkuat semua fitur kebahagiaan dan pertahanan diri. Bukan sekedar sugesti, tetapi nyata berharmoni dengan lingkungan sehingga memiliki kesinambungan.

Kitab suci bukan tulisan biasa, tetapi luar biasa. Rentangnya dari satu ujung yang ekstrim kepada ujung lainnya yang ekstrim. Dari surga hingga neraka. Diamini oleh sebagian manusia dengan kesyukuran tertinggi, dihujat oleh sebagian manusia dengan ke-angkaramurka-an tiada tara. Mengungkap kebaikan tertinggi yang bisa dicapai manusia sekaligus menerangkan potensi kejahatan tertinggi pula. Memang demikianlah keadaannya, yaitu ada di sepanjang rentang keadaan umat manusia.

Salah satu upaya dalam “membaca” Kitab Suci, kiranya bolehlah kita memikirkan bagaimanakah kedudukan Kitab Suci dalam ruang komunikasi Tuhan – makhluk.
  1. Kitab Suci adalah bentuk komunikasi dari Komunikator (Tuhan) kepada komunikan (manusia). Di sini kitab suci hanya eksis (berarti) bagi yang mengakui adanya sang Komunikator dan syarat yang ditetapkan oleh Komunikator. Syarat itu adalah paket keimanan.

  2. Tuhan adalah Komunikator Terbaik karena memahami sepenuhnya diri manusia, sehingga pasti menyampaikan pesan sesuai totalitas keadaan manusia. Secara total di sini juga berarti bahwa pesan sudah final dan jelas adanya sehingga komunikan tak perlu bertanya balik kepada Komunikator untuk meminta penjelasan atau menanyakan hal lainnya. Sejauh komunikan menggunakan kemampuan analisisnya dengan baik, maka semua hal dalam kehidupan akan turut dapat terjelaskan maknanya.

  3. Totalitas pesan juga berarti melintasi perbedaan tingkat pemahaman manusia dan juga perkembangan jaman. Hal ini terwujud dalam kesederhanaan pesan pada kesan awalnya, dan beranjak kompleks pada kesan-kesan selanjutnya apabila ditelusuri lebih mendalam dan dirangkai lebih menyeluruh.

  4. Pesan ditujukan kepada semua perangkat kesadaran yang mempengaruhi segala keadaan manusia. Secara simple, perangkat kesadaran tersebut adalah akal rasio dan hati. Akal rasio sebagai pengolah informasi realitas, sedangkan hati adalah pengolah energi dalam diri.

  5. Pesan memiliki karakter tertentu sesuai perangkat penerimanya, apakah akal rasio ataukah hati. Kesesuaian antara karakter kata dengan perangkat penerima akan mendukung tersampaikannya pesan-pesan secara sempurna. Pengulangan-pengulangan ayat adalah salah satu bentuk penyampaian pesan kepada hati.

  6. Pesan bersifat efektif, yakni bermakna tinggi karena berorientasi kuat pada manfaat yang menggerakkan diri ke dalam atau ke luar untuk mencapai berbagai tujuan penting secara langsung maupun tidak langsung.

  7. Efektifitas pesan juga tertuang dalam bentuk muatannya yang serius, yang tak layak diremehkan oleh komponen kesadaran yang berhasil memahaminya, karena seakan telah terjadi “reaksi kimia” antara sistem kesadaran dengan pesan . Karenanya akan menjadi hal yang secara otomatis mengikat bagi siapapun individu yang memahaminya. Dan, setiap kata memiliki muatan yang berarti, tak ada yang bisa diabaikan.
Demikianlah sebatas pandangan penulis.
Wallahu a’lam.

Belajar "Membaca" Kitab Suci (2)

Melanjutkan artikel sebelumnya, perlu untuk melihat bagaimana penyebaran pesan Kitab Suci yang terjadi di antara sesama manusia. Menyebar pesan di sini berarti mengantarkan cara hidup hingga nilai kebenaran. Tak bisa dipungkiri bahwa dalam hal ini kadang terjadi keributan antar sesama yang mungkin saja dikarenakan cara pandang yang kurang tepat terhadap apa itu “pesan dari Tuhan”.

Mengantarkan kebenaran Kitab Suci pada satu sisi adalah sebagai perwujudan dari rasa kemanusiaan. Ibarat seseorang yang sedang berjalan bersama seorang kawannya yang buta, maka ketika mendapati kawannya yang buta hendak menuju lubang berbahaya maka dia pasti memberitahukan kepada kawannya itu agar segera berbelok.

Di sisi lain, mengantarkan kebenaran Kitab Suci berarti juga mengantarkan sesuatu nilai yang tinggi yang dapat diperdebatkan keberadaannya apabila dibawa pada landasan realitas empiris.
Namun sejatinya, mengantar kebenaran Kitab Suci ini tidak hanya diperuntukkan kepada orang lain, melainkan juga kepada diri sendiri sebagai sasaran terpenting.


Tentang Bukti Kebenaran Kitab Suci 

Mengantarkan kebenaran Kitab Suci terkait erat dengan bukti. Dan, Tuhan telah menyatakan bahwa bukti kebenaran Kitab Suci ada pada diri sendiri dan alam semesta, karenanya manusia beriman pastinya percaya penuh akan hal itu.

Namun kepercayaan saja tentu kurang sempurna karena manusia adalah makhluk yang terdiri dari batin dan lahir sekaligus, sedangkan kepercayaan baru menyentuh sisi batiniah saja. Manusia yang beriman seharusnya mengetahui bukti kebenaran Kitab Suci yang pastinya bermanfaat. Karena selain untuk memperkuat keyakinan, hal itu juga sebagai tanda bahwa ia telah mempraktekkan pesan-pesan Tuhan, bukan hanya keimanan yang kosong tanpa praktek dan tak bermakna (keimanan palsu). Dan bukti yang diketahui itu sekaligus sebagai anugerah (hadiah) yang nyata.

Sejalan dengan yang Tuhan nyatakan, maka pembuktian dapat ditemukan pada diri sendiri, dan pada alam semesta. Dan sebagai manusia yang terbatas kemampuannya, maka pembuktian yang paling mudah (dan karenanya menjadi pengupayaan minimal) adalah pada batasan yang paling sempit, yaitu pada batin (masing-masing) : apakah batinnya merasa lebih tenang dengan keimanan, atau tidak.

Seiring dengan kemampuan yang lebih baik, maka batasannya bisa lebih luas, misalkan pada keadaan tubuhnya : kesehatan, kejujuran, ketekunan, kesabaran, disiplinan, dll.

Lebih luas lagi pada keluarga yang sama-sama beriman dengan baik : apakah bahagia, harmonis, tenteram, tercukupi kebutuhan yang diinginkan, dll.

Lebih luas lagi pada masyarakat, negara, bahkan dunia apabila semuanya beriman dengan baik. Namun ketika realitasnya tak semua manusia beriman, maka hanya dengan analisa (dari ahlinya) lah pembuktikan dapat dilakukan.

Keluasan lingkup pembuktian juga berlaku pada komponen lingkungan, apakah penerapan Kitab Suci dapat memberikan kontribusi positif bagi lingkungan, ataukah tidak. Hal ini tentunya hanya dapat dilakukan oleh sebagian ilmuan yang mencapainya dengan metoda yang benar.

—

Namun perlu dimaklumi, bahwa dikarenakan kebenaran Kitab Suci pada batasan yang luas yaitu di level lingkungan dan level masyarakat memiliki dimensi yang kompleks untuk dilakukan oleh komunitas ilmuan yang beriman (sepertinya sebagian besar ilmuan dunia tidak beriman kepada Kitab Suci), maka bukti-bukti ilmiah sahih (yang terserak di antara banyaknya bukti ilmiah sementara/ belum sahih) hanya menjadi semacam bukti bisu saja bagi manusia tentang kebenaran Kitab Suci.

Ya, hanya bukti bisu karena sedikit sekali ilmuan yang berminat, berkompeten sekaligus bertanggung jawab dalam upaya menarik relasi pesan Kitab Suci dengan bukti ilmiah sahih. Kalau toh ada yang mampu, belum tentu ia akan mendapat pengakuan dari komunitas global ilmuan, bahkan tidak jarang muncul pertentangan. Jadilah masyarakat terpolar pada setidaknya dua kutub pendapat para ilmuan : yang mengakui bukti kebenaran Kitab Suci (jumlahnya sangat sedikit) dan yang tidak mengakui (jumlahnya sangat banyak). Belum lagi adanya pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab dengan mengklaimkan hoax sebagai bukti Kitab Suci, maka bertambah lagi kutub pandangan di masyarakat.

Maka menjadi sesuatu yang sulit untuk menyampaikan bukti kebenaran Kitab Suci yang batasannya luas (yaitu lingkungan dan masyarakat) kepada manusia yang lain. Tak jarang tuduhan klaim sepihak terlontar kepada para penyampai. Terlebih apabila penyampaian disertai dengan membabi buta, hal itu bisa berakibat kontraproduktif dan justru dapat merusak nilai keimanan diri sendiri.

Maka yang paling bermanfaat adalah pengkomunikasian internal (kepada diri sendiri) sehingga beragamlah bukti yang didapatkan dari mulai lingkup diri sendiri hingga lingkup di luar diri. Implikasinya adalah semakin bersemangat dalam mempraktekkan Kitab Suci dalam peri-kehidupan yang ujung-ujungnya akan menghasilkan manfaat lebih dan bukti-bukti baru yang semakin mantap. Dan bukti-bukti baru itu mungkin juga akan dirasakan secara nyata oleh lingkungan serta masyarakat.

—–

Kembali ke awal, terkait cara pandang tentang apa itu “pesan dari Tuhan” setidaknya ada tiga hal yang perlu untuk dipahami :
  1. Kitab Suci adalah pesan Tuhan. Dan “pesan dari Tuhan” selamanya tak bisa beralih menjadi “pesan dari manusia”, karena manusia tak akan sanggup mengungkap keseluruhan rahasia dari pesan itu. Apa yang bisa menjadi “milik” manusia adalah sebatas yang dipahami dan dibuktikan dari pesan itu. Konsekuensinya adalah tak bisa manusia memaksakan suatu pesan kepada orang lain. Manusia hanya sebatas menyampaikan pesan, dan boleh memberikan bantuan pemahaman orang lain atas pesan apabila memiliki pemahaman yang lebih baik.

  2. Kitab Suci diturunkan untuk yang memahami bahasa, utamanya adalah manusia. Sedangkan manusia terhadap manusia lain adalah setara. Maka kapanpun seorang manusia memahami isi pesan, seketika itu juga dialah yang mendapat konsekuensi atas pesan. Melempar pesan kepada yang lain tidak melepaskan diri dari konsekuensi pesan atas diri dan aset yang diberikan Tuhan.

  3. Kitab Suci bukanlah sesuatu yang bekerja sendiri. Ia adalah pasangan dari aset yang diberikan Tuhan kepada manusia utamanya akal dan hati. Karenanya pemaknaannya tidak bisa dilepaskan dari kinerja akal dan hati, dalam arti selalu diperlukan penganalisaan sekaligus perenungan terhadap setiap pesan. Dan ketika pesan dilaksanakan oleh manusia yang terbatas, maka apa yang dikerjakan manusia itu tidak bisa diklaimkan telah mencerminkan isi pesan seutuhnya.

Sebuah ilustrasi sederhana tentang beberapa maksud di atas : 

A adalah seorang owner perusahaan roti dan ahlinya, sedangkan B, C, dan D adalah pekerja barunya yang level ketiganya sama, masing-masing dibekali alat dan bahan pembuat kue yang sama persis.
Suatu ketika A ingin memberi instruksi ke pekerjanya yang sangat amatir, tapi kali ini ia sedang di luar kota sehingga hanya bisa mengirim pesan via email. Email ditujukan ke B, karena C dan D tidak kenal internet. Isi email tersebut sbb:

Dear Mas B,

Hari ini tolong kamu buat roti yang mengembang bagus ya. Tipsnya:

Gunakan 0,5 kg tepung terigu, sebaiknya campur terigu dengan tepung lainnya seperti tepung gandum namun dengan total campurannya 0,5 kg. Selain itu, untuk menghasilkan roti yang terbaik, jangan terlalu sering menyentuh adonan roti dengan tangan saat menguleni roti. Ragi pada roti tidak akan mengembang sempurna ketika terlalu banyak ditekan. Istirahatkan sejenak adonan roti agar mengembang sempurna, dan membentuk karbondioksida yang cukup untuk melembutkan tekstur roti.


Oya, sampaikan ke Mas C dan Mas D untuk buat juga

Antara B, C dan D masing-masing memiliki pengalaman yang berbeda-beda di bidang pembuatan kue, tapi belum ada yang punya pengalaman membuat roti yang mengembang.
Nah, sehabis baca email itu reaksi B ada beberapa kemungkinan, di antaranya :
  1. B tidak mencoba sama sekali, hanya menyampaikan email ke C dan D. C dan D pun praktek dan menghasilkan roti yang belum begitu mengembang. >> reaksi B ini salah besar menurut Owner karena sudah diberikan alat dan bahan tetapi tidak digunakan untuk bekerja.

  2. B coba-coba sendiri, namun dia gagal karena rotinya hanya sedikit mengembang. Dia menyembunyikan email itu, dan hanya berceramah sok tahu ke C dan D berdasar pengalamannya tadi. Bercampurlah kata-kata owner dengan kata-katanya sendiri. C dan D pun mengikuti B dan coba membuat, lalu gagal. Lalu B mengolok-olok kedua temannya itu sebagai orang bodoh >> reaksi B ini salah menurut Owner.

  3. B mencoba dulu sendiri, namun gagal. Lalu B memberi tahu ke C dan D tentang isi email apa adanya. Dia bersikap pasrah (netral) saja kalau hasil dari C dan D lebih baik darinya. Kalau toh C dan D tak mau mempraktekkan isi email itu, B juga tetap akan netral saja toh dia sudah menyampaikan. >> reaksi B ini dimaklumi oleh Owner, dan Owner berpesan ke B agar mau berusaha lebih keras agar berhasil membuat roti mengembang.

  4. B coba-coba sendiri dan menurutnya lumayan berhasil : cukup mengembang. Lalu dia menuntun C dan D untuk mempraktekkan apa yang sudah dipraktekkan. >> reaksi B ini kurang tepat menurut Owner, dan Owner berpesan ke B “lain kali tolong C dan D biar baca emailku juga, dia mungkin bisa buat roti mengembang lebih sempurna daripada punyamu”

  5. B langsung mengajak C dan D untuk sama-sama membaca email dan diskusi serta praktek berdasar pengalaman ketiganya. Mereka tidak ada yang merasa lebih unggul dari yang lain. >> reaksi ini paling benar menurut pandangan Owner.
Demikian.
Wallahu a’lam

Saturday, December 1, 2012

Tentang Mukjizat : menelusur di antara Baik dan Benar (bagian 2)

Hampir tak terpikirkan lagi di benak sebagian besar kita bahwa di zaman sekarang ini akan ada lagi suatu pertunjukan mukjizat dari Tuhan secara terang-terangan berjalan di luar hukum alam yang utama, yaitu munculnya mukjizat demi tegaknya hukum baik-buruk secara gamblang. Akan tetapi hukum sebab akibat yang menyangkut baik-buruk harus diyakini tetap berlaku hingga kini, yang mana seringkali terbuktikan dengan jelas di sekitar kita bahwa keburukan berdampak keburukan, kebaikan berdampak kebaikan, entah cepat atau lambat. Kadang terwujudnya hal tersebut seperti semacam keajaiban bagi sebagian orang meskipun sebagian yang lain mengatakan sebagai kebetulan semata. (Tulisan ini mencoba memahami hukum baik-buruk sebagai suatu kepastian, bukan suatu kebetulan)

Lantas, bagaimanakah hukum baik-buruk itu bekerja (sedangkan mukjizat sudah tak lagi ada)?
Hukum baik-buruk sangat berbeda dengan hukum benar-salah. Hukum sebab akibat yang terjadi pada ranah benar-salah memungkinkan untuk dipelajari mekanismenya, di mana telah mencetuskan banyak bidang ilmu sains dan sosial walaupun sifatnya terbatas. Dengan mengetahui mekanisme sebab akibat yang menyangkut benar-salah itu, manusia bisa untuk sekedar memperkirakan atau bahkan menghitung hasil akhir secara akurat dari sesuatu yang dia analisa.

Namun, terkait hukum sebab akibat yang menyangkut baik buruk, sepertinya terlalu sulit untuk menelusuri mekanismenya. Dan sebagaimana telah disinggung pada artikel sebelumnya (dan sejauh ini tidak ada koreksi), hukum baik-buruk tidaklah tegak berdiri sendiri di alam raya ini, melainkan bersumber langsung dari Yang Maha Hidup, yaitu Tuhan. Artinya bahwa akibat yang baik maupun yang buruk adalah terjadi atas perintahNYA, bukan terjadi secara otomatis di level empiris.

Bagaimanakah turunnya perintah Tuhan itu sedangkan semuanya seolah berjalan secara otomatis mengikuti hukum alam? Menurut penulis setidaknya masih ada beberapa tempat di dunia yang memungkinkan bagi turunnya perintah Tuhan, yaitu :
  • Pada kesadaran tertinggi manusia, sebagaimana perintah-perintahNYA tertuang secara verbal dalam Kitab Suci.

  • Pada kesadaran umum manusia, berupa pembelokan atau pembatalan atau pemunculan niat/ kehendak diri dalam membaca keadaan.

  • Pada alam bawah sadar manusia, termasuk juga pada alam mimpi.

  • Pada kesadaran hewani, yang terjadi pada segala spesies.

  • Pada alam setelah kesadaran di dunia (kematian).
Kesemua wilayah di atas menurut penulis adalah wilayah “halus” yang ada di luar ranah empiris, di mana energi Ilahiah dapat diterima secara sukarela maupun terpaksa dalam pengambilan keputusan-keputusan tindakan.

Sebuah ilustrasi untuk uraian di atas adalah sbb:
Seorang anak kecil yang diselamatkan Tuhan dari kecelakaan mobil, tidaklah dengan cara memberinya ilmu kebal kepada si anak itu, akan tetapi Tuhan akan memerintahkan kepada otak pengemudi mobil untuk segera mengambil keputusan bergerak cepat menghindari si anak.

—

Namun, Apakah Kebaikan itu?
Kebaikan yang paling pertama dan utama bagi manusia adalah menyadari keberadaan dirinya sebagai obyek yang ter-ada-kan di muka bumi, diri dan tubuhnya. Kesadaran yang menyiratkan kepercayaan (keimanan) dari obyek (makhluk) kepada Subyek (Tuhan). Keimanan adalah kebaikan yang menjadi landasan bagi kebaikan yang lain. Sehinggu seperti itulah konstruksi kebaikan-kebaikan yang benar, karena apapun kebaikan hanya bisa terjadi setelah keber-ada-annya. Keber-ada-an tidak dapat dinafikan selamanya.
Selain itu, dikarenakan akibat dari suatu kebaikan/ keburukan adalah muncul atas perintahNYA, maka keimanan tentunya juga menjadi syarat wajib dari rangkaian sebab akibat pada baik-buruk. Tuhanlah yang melakukan perhitungan tersendiri dalam menentukan akibat-akibat dari kebaikan atau keburukan. Sehingga apabila keimanan tidak ada, berarti menafikan Tuhan, maka tak ada perhitungan atas kebaikan-keburukan yang lain. Yang ada hanyalah “keburukan” atas ketidak-imanan.

Bisa dikatakan bahwa kebaikan yang berada di luar landasan keimanan adalah kebaikan yang tidak sah, meskipun kebaikan itu baik bagi sesama. Di sini hukum baik-buruk tidak berlaku lagi, namun demikian hukum benar-salah selalu berlaku bagi semua makhluk termasuk yang tidak beriman. Di antara hukum benar salah itu adalah siapa yang bekerja keras dan bersungguh-sungguh, maka akan memperoleh hasilnya.
Kebaikan yang berada di landasan iman, adalah perwujudan dari rasa syukur (juga kecintaan) kepada Tuhan, yang sebagian besar terwujudkan dengan pengorbanan-pengorbanan, dan juga terwujudkan dalam bentuk kesabaran-kesabaran karena prasangka yang baik kepadaNYA.
.

Sifat Kebaikan

Sifat kebaikan, adalah segala sesuatu yang dapat meningkatkan keyakinan atas kepercayaan kepada Tuhan. Keyakinan kepada Tuhan adalah kenikmatan batiniah, yaitu kenikmatan tertinggi, yang secara lahiriah terentang di antara kesengsaraan dan kenikmatan. Pada titik tertinggi, keyakinan dalam keimanan mungkin bagaikan me-rasa-kan kehadiran DzatNYA, yang mampu mengabaikan rasa terhadap zat-zat makhluk. Itulah yang mungkin dipraktekkan oleh para Nabi sehingga memiliki kesabaran diri yang luar biasa terhadap berbagai kenikmatan maupun kesengsaraan duniawi.

Akan tetapi, apa yang diajarkan oleh Tuhan Yang Maha Penyayang (melalui agama) adalah kebaikan yang sekaligus kebenaran, agar manusia mendapatkan kenikmatan yang menyeluruh, yaitu kenikmatan batiniah yang diikuti kenikmatan lahiriah. Pada kenyataannya banyak manusia beriman yang menginginkan kenikmatan lahiriah juga, sebagaimana sering terlantunkan dalam doa-doa yang dipanjatkan kepadaNYA. Namun tak jarang juga ada sebagian kaum beriman yang memilih keadaan lahiriah yang minimal bahkan menyengsarakan sebagai pilihannya sendiri demi kecintaannya kepada Tuhan. Banyak kisah-kisah mengharukan dimana pengorbanan jiwa dilakukan atas dasar keyakinan yang besar kepadaNYA.

Wallahu a’lam

Friday, November 23, 2012

Tentang Mukjizat : menelusur di antara Baik dan Benar (bagian 1)




Mukjizat adalah kehendak Tuhan dengan tujuan umumnya adalah sebagai tanda-tanda kekuasaanNYA bagi manusia. Namun, tujuan kontekstual dari mukjizat tak bisa dirumuskan. Kita lihat bagaimana karakteristik tujuan kontekstual dari mukjizat yang diturunkan kepada para Nabi di dunia :

  • Suatu ketika menolong, suatu ketika memberi pelajaran.
  • Suatu ketika mengalahkan, suatu ketika menimbulkan ketakjuban,
  • Suatu ketika mengabulkan doa, suatu ketika menjawab tantangan,
  • Suatu ketika menyempurnakan ketetapanNYA, suatu ketika melekatkan kemampuan tertentu yang dikehendakiNYA.


Maksud di atas adalah bahwa Nabi tidak berdaya untuk memilih mukjizat itu, sepenuhnya mukijzat turun karena mengikuti kehendakNYA. Kondisi ekstrimnya adalah bahwa pada kenyataannya ada Nabi yang tertolong nyawanya dengan mukjizat, namun ada juga Nabi yang terbunuh.
(Catatan: Terkait Nabi yang terbunuh itu secara ghaib diterangkan oleh Tuhan setelahnya, bahwa Nabi yang terbunuh itu sebenarnya dalam keadaan tersejahterakan di alam yang lain, meskipun secara pandangan manusia di dunia tidak terjadi mukjizat yang menolongnya. )

Maka berdasar kondisi tersebut, tidak tepat kalau di dunia ini kita terlalu mengharapkan mukjizat dalam pengertian munculnya suatu kejadian yang adikodrati. Bukan saja karena kita sangat jauh dari sifat Nabi, tapi juga karena Nabi saja tidak dapat menentukan sendiri tentang mukjizat, apakah diturunkan atau tidak. Dan yang terpenting adalah bahwa sebenarnya mukjizat bukanlah tujuan hidup, melainkan bagaimana mendapatkan keridloanNYA.  

Mukjizat [dalam pengertian yang lazim digunakan] hanyalah salah satu cara Tuhan mengajak komunikasi kepada manusia. Komunikasi dalam bentuk pengajaran, atau pertolongan, atau pemberian kemampuan, atau yang lainnya. Sedangkan wahyu [yang diturunkan kepada Nabi] juga bentuk komunikasi Tuhan yang lainnya. Karenanya, tepatlah apabila wahyu disejajarkan sebagai mukjizat juga, atau bahkan menganggap wahyu lebih tinggi dari mukjizat, karena komunikasi Tuhan kepada manusia dalam wahyu itu berlangsung terus menerus. 

Al Quran pada saat turun satu per satu ayatnya pun sebenarnya adalah sesuatu yang adikodrati, hanya saja itu berlaku terbatas pada diri Nabi dan kadang di sekelilingnya juga. Misalnya, tubuh Nabi tiba-tiba bertambah berat pada saat menerima wahyu sehingga unta yang membawa Nabi sampai-sampai tak kuat berdiri. Al Quran adalah cara Tuhan berkomunikasi dengan manusia, yang dibukukan dan terus menerus hadir di kalangan manusia.

---

Mukjizat tidaklah berada dalam kaidah hukum benar-salah yang biasa dikenal dan dipelajari oleh manusia (sebut saja hukum alam utama), tetapi ia masih berada dalam ranah perintah dari Tuhan. Mukijzat tidak menyalahi hukum alam utama, karena hukum alam utama itu tidaklah sesuatu yang absolut dan berdiri sendiri. Hukum alam utama pun juga sedang menjalankan perintahNYA. 

Dengan demikian, kebenaran sejati menjadi tergantung oleh Kehendak Tuhan. Sesuatu dikatakan benar sejati ketika selaras dengan cara materi dalam memenuhi kehendak Tuhannya. Dan tabiat materi adalah selalu tunduk kepada kehendakNYA. Maka ketika Tuhan tidak merubah ketentuan yang terdahulu terhadap alam, maka selamanya alam dengan segenap materinya akan selalu mengikuti ketentuan terdahulu tanpa berselang satu detik pun. Konsistensi alam yang selalu tunduk itu kemudian diamati oleh manusia dan ditemukanlah berbagai rumusan ilmu pengetahuan. Dari pengamatan itulah berkembang menjadi cara-cara “memanipulasi” sehingga bisa memberi manfaat bagi kehidupan manusia.

---

Tunduk kepada perintah Tuhan adalah kebaikan, sehingga materi sejatinya selalu dalam kebaikan. Dan materi juga selalu dalam kebenaran, dengan pengertian bahwa cara berperilakunya itu dijadikan acuan bagi manusia dalam berinteraksi di alam itu. 

Maka satu-satunya hukum Tuhan yang berlaku di alam ini adalah hukum baik-buruk. Yang dinamakan kebaikan adalah menjalankan perintah Tuhan, yang dinamakan keburukan adalah meninggalkan perintah Tuhan. Kebaikan berakibat kebaikan, dan keburukan berakibat keburukan. 

Sedangkan posisi hukum benar-salah adalah mengacu kepada bagaimana cara materi dalam melaksanakan kebaikan. Ini mengandung pelajaran, bahwa manusia hendaknya selalu memperjuangkan dirinya agar selalu dalam kebaikan sekaligus kebenaran. Kebaikan untuk pertanggungjawaban kepada Tuhan, kebenaran untuk mencapai interaksi yang harmonis dengan alam.

Demikianlah sebatas pemikiran personal yang terbatas. 

[mungkin] bersambung.

Wallahu a’lam.

Sunday, October 28, 2012

Kehendak Tuhan dan "kehendak" Manusia

Apa yang dinamakan kehendak manusia adalah suatu akibat dari sebab. Sebagai contoh, kehendak seseorang untuk menolong orang lain didasari oleh satu atau beberapa sebab :
  • Harapan untuk mendapatkan pertolongan balik dari orang yang ditolong pada waktu mendatang,

  • Harapan untuk mendapatkan simpati atau nama baik dari pihak ketiga,

  • Kebutuhan mengobati rasa sakit hati alamiah (naluri) akibat menyaksikan penderitaan orang lain,

  • Mengharap kasih sayang atau pertolongan dari Tuhan,

  • Dan lain-lain.
Sebab-sebab di atas adalah wujud kebutuhan diri manusia, sehingga dapat di-skema-kan sebagai berikut :
Kebutuhan >> Diri >> Kehendak.
Apabila tidak ada kebutuhan, maka tidak akan ada kehendak. Jadi kehendak manusia pada dasarnya bukanlah berasal murni dari dirinya sendiri. Kehendak manusia bukanlah wujud kreatifitas yang murni dari diri. Kalau toh ada kreatifitas, maka itu hanya berupa “pemilihan kehendak”, yang mana masih terikat dengan kebutuhan dirinya.
Dari uraian di atas, terlihat bahwa kehendak manusia bukanlah kehendak sejati. Kehendak bebas manusia, bukanlah kehendak bebas yang sejati.
.
Kehendak Tuhan
Kehendak manusia berbeda dengan Kehendak Tuhan. Tuhan dalam berkehendak tidak untuk memenuhi kebutuhanNYA :
  • KehendakNYA di awali dengan penetapan Tuhan atas diriNYA sifat kasih sayang. Penetapan ini bukan karena kebutuhan, tetapi wujud kesempurnaan, kemandirian, dan kebebasan sejatiNYA.
Apabila orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami itu datang kepadamu, maka katakanlah: “Salaamun alaikum. Tuhanmu telah menetapkan atas diri-Nya kasih sayang, (yaitu) bahwasanya barang siapa yang berbuat kejahatan di antara kamu lantaran kejahilan, kemudian ia bertaubat setelah mengerjakannya dan mengadakan perbaikan, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Al An’am:54)
.
  • Untuk mencurahkan kasih sayangNYA, DIA berkehendak menciptakan diri-diri manusia yang diberikan kasih sayang itu.
  • Untuk mendukung diri manusia, DIA berkehendak menciptakan bumi yang di dalamnya terkandung berbagai rahmatNYA.
  • Untuk mendukung bumi, DIA berkehendak menciptakan langit dan apa yang ada di antara bumi dan langit.
Dialah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. (Al Baqarah:29)
*Note: Urutan yang seperti di atas adalah suatu bentuk rumusan tujuan penciptaan, yang diwujudkan dengan urutan terbalik, sebagaimana logika manusia mengatakan bahwa bumi tercipta sebelum manusia ada.
.
  • Keseluruhan kehendak mencipta alam ini (dunia) kelak diiringi dengan kehendakNYA mengganti alam ini dengan alam yang lain (akhirat). Sehingga alam yang sekarang ini berada dalam suatu rentang waktu tertentu yang telah dikehendakiNYA sendiri. Dan dengan terwujudnya alam akhirat, maka manusia sebagai makhluk akan mencapai kesempurnaan atas kasih sayangNYA.

(Yaitu) pada hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit, dan meraka semuanya (di padang Mahsyar) berkumpul menghadap ke hadirat Allah yang Maha Esa lagi Maha Perkasa. (Ibrahim:48)
.
  • KehendakNYA terhadap keadaan yang terjadi di alam juga bukan karena kebutuhanNya, tetapi atas dasar kehendakNYA juga yang telah menetapkan hukum alam yang penuh dengan rahmatNYA. KehendakNYA di alam adalah menjaga keseimbangan alam sampai saatnya diganti dengan alam akhirat.
***
Di antara kehendak Tuhan adalah mewujudkan keadaan baik maupun buruk bagi manusia dikarenakan apa yang dilakukan oleh diri manusia itu sendiri :
Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui. (Al Baqarah:261)
Janganlah kamu disedihkan oleh orang-orang yang segera menjadi kafir; sesungguhnya mereka tidak sekali-kali dapat memberi mudharat kepada Allah sedikitpun. Allah berkehendak tidak akan memberi sesuatu bahagian (dari pahala) kepada mereka di hari akhirat, dan bagi mereka azab yang besar. (Ali Imran:176)
.
Tuhan tidak memberi kebaikan kepada manusia tertentu, disebabkan manusia tersebut memang menutup diri terhadap kebaikan. (note: kafir = menutup diri). Hal ini adalah sebab akibat yang wajar, sehingga bukan keinginan pribadi Tuhan atas keburukan yang akan menimpa seorang manusia.

Itulah ayat-ayat Allah. Kami bacakan ayat-ayat itu kepadamu dengan benar; dan tiadalah Allah berkehendak untuk menganiaya hamba-hamba-Nya. (Ali Imran:108)
***
Selain itu, dalam mewujudkan kehendak, Tuhan sedikitpun tidak mengalami konsekuensi maupun kepayahan.

Maryam berkata: “Ya Tuhanku, betapa mungkin aku mempunyai anak, padahal aku belum pernah disentuh oleh seorang laki-lakipun”. Allah berfirman (dengan perantaraan Jibril): “Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata kepadanya: “Jadilah”, lalu jadilah dia. (Ali Imran:47)

Dan sesungguhnya telah Kami ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, dan Kami sedikitpun tidak ditimpa keletihan. (Qaaf:38)
***
Kehendak Tuhan juga terbebas dari keinginan manusia. Kehendak Tuhan hanya didasari oleh hukum yang Tuhan buat sendiri, yaitu hukum alam yang teliti dan tidak memihak (berkeadilan).

Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui. (Al Baqarah:261)
.
Sehingga kehendak manusia hanya akan menjadi kehendak Tuhan manakala kehendak manusia berkesesuaian dengan hukum yang Tuhan ciptakan. Apabila kehendak manusia tidak sesuai dengan kehendak Tuhan, maka kehendak manusia akan mengalami kegagalan.

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (Al Baqarah:186)
Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai. (At Taubah:32)
***
Demikianlah sebatas pemahaman penulis tentang apa yang dinamakan Kehendak Manusia dan Kehendak Tuhan. Kehendak Tuhan ini juga identik dengan Kasih Sayang Tuhan, identik dengan Cinta Tuhan yang orientasinya selalu tentang keadaan makhlukNYA, bukan untuk kepentingan Tuhan pribadi. Bebasnya kepentingan pribadi Tuhan tersirat dengan tidak ditemukannya satu ayat pun yang menyebutkan Tuhan bersedih, Tuhan gembira, Tuhan kecewa, Tuhan takut, dan keadaan-keadaan internal Tuhan yang menandakan kelemahan. Sebaliknya, telah sangat jelas difirmankan :

Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. (Al Ikhlash:2)

Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah Dialah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji. (Faathir:15)
***
Semua kesalahan adalah dari penulis. (astaghfirullohal’adziim)
Wallohu a’lam

Logika dan Laku

Kerangka logika sebesar dan sehebat apapun, apabila salah satu element kecil dasarnya ada yang gugur, maka otomatis keseluruhan bangunan logika di atasnya akan runtuh. Tetapi kadang kita malu mengakui, enggan untuk jujur, atau pura-pura tidak tahu apabila di salah satu dasar logika ternyata mengandung kecacatan.

Manusia memang sulit untuk bebas dari keinginan dan kepentingan. Seseorang yang dirinya cerdas dan sudah merasa berpikir logis, belum tentu jalur pikirannya benar-benar logis, karena bisa jadi ada faktor kepentingan yang mempengaruhi jalan pikirannya. Untuk itulah diperlukan alat bantu berupa angka-angka (perhitungan) atau obyek nyata untuk membuktikan kelogisan berpikirnya.

Bagaimana apabila kesulitan dalam melakukan perhitungan atau percobaan-percobaan?

Maka perlu dilakukan pengikisan keinginan, yaitu dengan LAKU. Misalnya dengan menekan hasrat makan di luar kebutuhan, hasrat seksual di luar keperluan, hasrat malas, hasrat terkenal, hasrat gengsi, hasrat kekayaan, hasrat sombong, hasrat kepuasan, dll. Dengan laku, akan lebih teranglah alam pikiran, lebih jujur, lebih adil, meskipun mungkin belum mencapai puncaknya.

Keterkaitan antara kondisi keinginan dengan alam pemikiran ini sangat erat, bisa dibuktikan bahwa kadang kala pola pikir personal mengalami perubahan tergantung suasana hati, tergantung keadaan yang melingkupi. Berpikir saat sehat, senang dan kenyang kadang berbeda dengan saat sakit dan sengsara.

Teknologi yang diakui dunia dan mampu membawa manfaat bagi manusia tidak terlepas dari serangkaian perhitungan dan uji coba yang serius. Sedangkan pengetahuan spiritual besar dunia tidak terlepas dari laku hidup yang cenderung bebas ego dari tokohnya. Para tokoh besar dunia adalah orang-orang yang telah nyata perjuangannya lahir dan batin.

Jadi, bagi kita yang konon memperjuangkan kebenaran, atau yang mencari pencerahan, atau yang belajar menemukan kebenaran, atau yang bahkan menyanggah perkataan tokoh besar yang dihormati, sangat penting bagi kita untuk berkaca, seperti apakah pribadi kita, seberapa besarkah ego kita. Karena suatu kemustahilan untuk menemukan kerangka pikir baru yang lebih benar apabila dirinya sendiri terbukti masih sering memperturutkan keinginannya.

Wallohu a’lam

Sepeda, Helicopter, dan Keselamatan


Ini benar-benar fiktif.

Alkisah ada seorang wanita bernama nona X.
 Kala itu dia sedang sendirian berada di lereng sebuah gunung Y.

Tak penting bagaimana asal muasalnya, ternyata di dekatnya ada sepeda kayuh, sepeda motor, mobil, dan Helicopter. Semuanya dalam keadaan siap jalan dan boleh dia bawa sesukanya.
Nona X sendiri bisanya hanya naik sepeda kayuh dan sepeda motor saja.
Tiba-tiba puncak gunung menyemburkan lumpur panas, bergerak ke arah nona X.
Maka dia harus segera menjauh dari puncak untuk menyelamatkan diri.
Maka apakah yang akan dilakukan nona X, apakah dia akan lari saja, atau menggunakan salah satu kendaraan di dekatnya?
…..
…..
…..
…..
Ya, tentunya dia akan memilih sepeda motor, karena itulah yang paling bisa dia andalkan untuk selamat dari bahaya lumpur panas. Itulah yang paling benar pada saat itu.
…..
Dia tak akan lari atau menggunakan sepeda kayuh, karena naik sepeda motor tentu bisa lebih cepat jalannya.
Dia salah kalau hendak memakai mobil karena dia tak bisa memakainya.
Dia salah kalau hendak menggunakan helicopter karena tak bisa mengoperasionalkannya, meskipun helicopter itu paling hebat.
Kenapa salah? Karena apabila dia memaksa memakai mobil atau helicopter, dia akan mengalami kebingungan dan lumpur akan bisa merenggut keselamatannya.
……
Maka bayangkanlah bahwa :
>>>kemampuan naik sepeda motor adalah kemampuan pemahaman terbaik yang saat ini kita miliki.
>>>Sepeda kayuh, sepeda motor, mobil dan helicopter adalah berbagai tingkatan pemahaman yang ada di masyarakat.
……
Sehingga boleh disimpulkan bahwa pada saat tertentu cara keselamatan yang benar bagi A belum tentu benar bagi B.
Karena tingkat pemahaman manusia berbeda-beda.
……
Seseorang tidak bisa menyalahkan yang lain hanya karena berbeda kemampuan pemahaman. Dan tidak tepat apabila mengajarkan sang bayi berlari, sedangkan duduk saja sang bayi belum mampu. Pengajaran terbaik adalah pengajaran yang mampu dijangkau dengan usaha terbaik yang diajar.
Yang terbaik adalah terus belajar dengan sebenar-benarnya niatan untuk memperbaiki diri.
……
Sekian.
Wallohu a’lam

Wahyu dan Pengetahuan Manusia



Jelas bahwa manusia terbatas. Keterbatasan yang berlapis-lapis.

Dengan berbagai usaha yang telah dilakukan, sebenarnya pengetahuan komunitas manusia semakin bertambah dari masa ke masa. Namun masih banyak sekali pertanyaan yang belum ditemukan jawabannya, karena banyaknya obyek pengkajian yang relatif masih tersembunyi. Tersembunyi karena terlalu dekat, atau terlalu jauh, atau terlalu kecil, atau terlalu besar, atau terlalu lemah, atau terlalu kuat, atau terlalu kompleks, atau keadaan ekstrim lain yang belum mampu dijangkau oleh indera maupun alat bantu.

Oleh karenanya, di semua bidang ilmu manusia terus menerus melakukan penelitian dan pencarian. Dunia sampai hari ini masih membutuhkan jutaan ilmuan untuk mengeksplorasi bumi, langit, alam psikologis, alam medis, alam sosial, dan berbagai hal lainnya yang bisa dijangkau melalui bukti-bukti nyata (fakta) sebagai landasan yang kokoh.

Sementara itu, di tingkatan personal, otak seorang manusia memiliki keterbatasan dalam memahami semua pengetahuan yang sudah diakui keabsahannya oleh komunitas dunia. Sehingga lebih sedikit lagi pengetahuan yang dapat dimengerti oleh seorang manusia, tergantung kemampuan dan pengalaman yang dimiliki.

Dan, ketika masuk ke hal yang lebih praktis, maka makin sedikit lagi pengetahuan yang dapat dipakai seorang manusia dalam menentukan setiap langkahnya, tergantung kapasitas memori berjalan yang ia miliki dalam menganalisa.

Sehingga, menegaskan apa yang sudah ditulis di awal, manusia selalu berada dalam keterbatasan yang amat sangat di alam yang teratur ini. Manusia selalu berada antara pengetahuan yang sedikit dan semesta pengetahuan yang tak diketahui ujungnya.


Kebutuhan akan Keselamatan

Di saat berada dalam posisi antara pengetahuan yang diketahui dan yang tak diketahui, manusia menghadapi berbagai keadaan. Maka, akibat dari apa yang tidak diketahui adalah munculnya kejadian yang dapat membahayakan jiwa dan ketentraman hidupnya. Berbagai kejadian yang membahayakan adalah bukti dari keterbatasan pengetahuan manusia baik secara komunitas maupun secara personal. Kejadian yang membahayakan itu bisa terjadi akibat satu atau beberapa hal sekaligus :
- keterbatasan pengetahuan manusia dalam melibatkan semua variabel yang halus maupun yang besar dalam menentukan langkah yang benar, sehingga berakibat kesalahan dan kemudian mendatangkan bahaya
- keterbatasan pengetahuan manusia dalam mendeteksi saat dan dari arah mana datangnya bahaya,
- keterbatasan pengetahuan manusia dalam menanggulangi atau menghindari kekuatan bahaya yang datang,

Dari kondisi keterbatasan yang dihadapi manusia, maka Tuhan Yang Maha Tahu menghadirkan Wahyu sebagai sisi pengetahuan lain yang melengkapi pengetahuan yang telah dicapai manusia. Dengan sempurnanya pengetahuan, maka hal itu akan menjamin kehidupan yang selalu berada dalam keselamatan, karena manusia akan bertindak sesuai dengan hukum absolut yang berlaku pada himpunan semesta.

Tentang Wahyu yang ditujukan untuk "melengkapi" pengetahuan yang telah manusia capai, maka hal ini selaras dengan sifat Tuhan yang mandiri dalam kehendakNYA, bahwa setiap kehendakNYA tidak mungkin bertentangan dengan kehendakNYA yang lain. Tuhan telah berkehendak menganugerahkan tubuh dan akal kepada manusia sejak awalnya, maka Tuhan tidak mungkin menafikan hasil usaha akal dan tubuh yang dilakukan secara benar.

Segala sesuatu yang sudah manusia akui sebagai pengetahuan yang benar karena didukung bukti-bukti yang meyakinkan dan konsisten, maka Tuhan tidak akan menyanggahnya. Karena itu adalah juga kehendakNYA.


Eksistensi Wahyu

Wahyu diturunkan kepada komunitas dunia secara berkali-kali melalui para Nabi (baik Nabi yang disebutkan dalam Al Quran maupun yang tidak), sejak Nabi Adam hingga Nabi Muhammad. Semua Nabi sama, tidak ada pembedaan. Tuhan pun hanya satu, yang sama sejak dulu hingga sekarang. Tetapi kenapa wahyu diturunkan ke masing-masing Nabi seakan berbeda ? Apakah Tuhan tidak mampu menurunkan pelajaran yang sama yang bisa berlaku kepada seluruh manusia di segala jaman?

Jawabnya adalah Tuhan pasti bisa. Tuhan bisa menurunkan satu pelajaran yang berlaku selamanya, yaitu :
Pokok keimanan, yang di dalamnya terdapat pengetahuan paling utama bahwa Tidak Ada Tuhan Selain Allah. Itulah Kalimat Tauhid sebagai pelajaran abadi bagi manusia, sejak Nabi Adam hingga sekarang, yang menurut penulis bisa diartikan sebagai berikut :
- Tak ada fakta abadi tentang yang paling dahsyat dari semua fakta yang mampu diketahui manusia,
- tak ada fakta abadi tentang yang paling mampu menyelamatkan dari semua fakta yang mampu diketahui manusia,
- tak ada fakta abadi tentang yang paling indah dari semua fakta yang mampu diketahui manusia,
- tak ada fakta abadi tentang yang paling besar dari semua fakta yang mampu diketahui manusia,
- tak ada fakta abadi tentang yang paling halus dari semua fakta yang mampu diketahui manusia,
- tak ada fakta abadi tentang apapun ‘yang paling’, kecuali Fakta Yang Maha yang tak akan mampu diketahui di dunia ini.

Pokok keimanan di samping (1) Kalimat Tauhid adalah pengetahuan tentang eksistensi (2) penjagaan sistem semesta (Malaikat), eksistensi (3) wahyu pengetahuan (Kitab Suci) yang diantarkan (4) para Nabi kepada manusia lain, pengetahuan tentang eksistensi (5) alam tujuan dan keabadian (Akhirat), serta pengetahuan tentang eksistensi (6) berbagai ketetapan Tuhan (Qadla dan Qodar).

Di luar pokok keimanan itu, wahyu yang turun berkembang mengikuti sejarah manusia. Berkembang mengikuti kemajuan pengetahuan manusia berbasis bukti (empiris). Berkembang mengikuti keragaman struktur masyarakat. Berkembang mengikuti keragaman aktivitas. Berkembang mengikuti kemajuan teknologi. Berkembang mengikuti kemajuan mengolah alam. Dan keragaman-keragaman lainnya.
Keseluruhan wahyu mengawal manusia sebagai makhluk yang mengembangkan dirinya, karena dalam pengembangan diri terdapat potensi baik dan buruk (masalah). Maka wahyu akan menjaga potensi baik sebagai rahmatNYA, dan mengatasi potensi buruk (masalah).

Terkait tentang eksistensi wahyu dalam sejarah manusia, terdapat keselarasan kuat antara ajaran Nabi Muhammad dengan ajaran Nabi Ibrahim. Apa yang diajarkan kepada Nabi Muhammad pada dasarnya adalah mengikuti wahyu yang diturunkan kepada Ibrahim. Kenapa tidak dikatakan Nabi Muhammad mengikuti Nabi Adam?

Katakanlah: "Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Tuhanku kepada jalan yang lurus, (yaitu) agama yang benar, agama Ibrahim yang lurus, dan Ibrahim itu bukanlah termasuk orang-orang musyrik". (Al An'am:161)
 
Hal ini menurut penulis adalah karena peradaban dan struktur masyarakat pada masa Nabi Muhammad dan sesudahnya memiliki kesamaan dengan peradaban dan struktur masyarakat pada masa Nabi Ibrahim, di mana pada masa Nabi Ibrahim sudah terdapat komunitas masyarakat yang besar dengan pemerintahan yang dipimpin oleh Raja Namrudz. Selain itu, Nabi Ibrahim dikabarkan aktif menggunakan daya nalarnya dalam bersosialisasi dan menegakkan keimanan kepada Tuhan. Sikap Nabi Ibrahim ini menunjukkan telah berkembangnya nalar manusia secara lebih jauh sejak Tuhan mengajarkan kepada Nabi Adam tentang nama-nama benda.

Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!" Mereka menjawab: "Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana". Allah berfirman: "Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini". Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman: "Bukankah sudah Ku-katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?" (Al Baqarah:31)

Maka dengan kondisi masyarakat yang kompleks, diturunkanlah Wahyu (pengetahuan dari Tuhan) yang mampu menyelesaikan masalah-masalah yang pasti juga kompleks menyangkut keselamatan manusianya. Di mana terdapat masalah yang tak dapat diselesaikan dengan pengetahuan empiris , di situlah Wahyu memberikan pengetahuan dan pemecahan.

Selamanya Tuhan menurunkan Wahyu untuk membawa solusi bagi keselamatan manusia. Akan tetapi sebagaimana telah disampaikan tentang kehendakNYA yang menganugerahkan tubuh dan akal kepada manusia, maka Wahyu tidak akan menyelesaikan masalah manusia manakala tidak diiringi dengan penggunaan tubuh dan akal secara seharusnya. Tubuh harus bergerak dan akal harus berfikir realistis untuk mencapai kemanfaatan yang didasarkan pada pengetahuan empiris, selanjutnya akal yang didukung dengan keimanan akan mengkaji Wahyu dan melaksanakan dengan sesempurnanya.

Dengan demikian, sesungguhnya diperlukan dialog yang terus menerus antara pengetahuan empiris dan pengetahuan Wahyu agar kehidupan manusia secara pribadi dan komunitas dapat berjalan sempurna sesuai kodratnya.

Wallohu a’lam