Selamat datang.. Hingar bingar di sekeliling mari diambil hikmahnya, karena keadaan masyarakat akan berubah bila diri kita berubah. Salam hangat!
Showing posts with label al kisah. Show all posts
Showing posts with label al kisah. Show all posts

Wednesday, February 20, 2013

Pertanyaan vs Realitas Hidup

Pesawat sudah lepas landas 30 menit yang lalu. Paijo yang tadinya anteng sejak dari rumah, kini tiba-tiba ribut dengan pertanyaan-pertanyaan ke ayahnya.

“Kenapa harus naek pesawat sih Pah, gak pake Bis atau Kereta aja?
“Koq Papah mau dibawa terbang gini? Kalau jatuh gimana donk?”
“Kita mau ke Australia ya? Australia itu tempat apaan sih Pah? Buat apa kesana?”
“Trus, ini koq bawa jaket tebal, sarung tangan dan topi gunung gunanya buat apa, kan di Jakarta udara panas sekali?”
“Buku Bahasa Inggris ini apa Pah? Kenapa perlu belajar, gunanya buat apa, kan pake Bahasa Indonesia sudah bisa?”

Ayahnya Paijo memang sabar, dia coba jawab satu persatu pertanyaan dari anaknya. Tapi dasar Paijo memang lagi hobi kritis, di terus aja tanya ini itu ke ayahnya sepanjang perjalanan.
Pesawat itupun terus saja melaju, tanpa peduli bahwa di dalam kabinnya terdapat session tanya jawab sengit antara seorang anak dan ayah. Beberapa jam kemudian pesawat bersiap melakukan pendaratan, dan Paijo dengan segala ketidakmengertiannya dipaksa ayahnya mengenakan jaket, sarung tangan dan topi gunung itu. Tak tahunya, setelah keluar dari pesawat itu dia menemui hujan salju dan angin dingin yang sangat.
—

Adalah wajar apabila rasa penasaran itu muncul di bumi. Penasaran terhadap hidup, bahkan terhadap sosok Tuhan. Tetapi sesungguhnya bumi terus meluncur kepada tujuannya, tak mungkin ia berbalik arah. Dan para Nabi sebagai manusia yang berkesadaran tinggi telah diberikan pengetahuan menghadapi masa depan oleh Yang Maha Kuasa. Maka bekal apakah yang sudah kita persiapkan, di samping sibuk bertanya dan mencari jawaban ?

Sungguh menyeramkan apabila di ujung perjalanan itu ternyata hamparan salju sedangkan kita tak membawa apapun yang akan melindungi tubuh. Akankah protes keras di sana? Sedangkan di dunia ini telah mendapat petunjuk-petunjuk tentang itu? Malah ada yang menuduh Tuhan telah bermain tebak-tebakan? Duh …!

Makna Kesedihan Mengenang Perjuangan Rosul SAW

Kita yang mengaku cinta Rosul tentu bersedih apabila mendengar kisah bagaimana Beliau berjuang di antara penduduk Mekah.
Tetapi mungkin kita terlupa akan salah satu makna kesedihan itu. Di mana dalam kesedihan itu, mungkin kita bertanya-tanya :

“Kenapa mereka yang tidak setuju dengan ajaran Rosul itu tega menghimpit, menghina, menyakiti hati dan tubuh Rosul?” 


Terlepas dari sikap pemaaf yang luar biasa dari Rosul,
Maka kita ini apabila melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan mereka yang tidak setuju kepada Rosul itu. Yakni gemar menghimpit, menghina, menyakiti hati dan tubuh siapapun yang tidak kita setujui,

Sesungguhnya itu tidak jauh berbeda dengan membenarkan kejahatan yang mereka lakukan kepada Rosul.

Semoga kita selalu diberi kelapangan untuk ber-introspeksi diri agar kecintaan kita kepada Rosul menjadi berarti. Astaghfirullahal ‘adziim..

Sholawat dan Salam kepada Rosululloh, penyampai ajaran rahmatan lil ‘alamiin.

Wednesday, November 28, 2012

Kisah tentang Keadilan Tuhan

Suatu saat Nabi Musa a.s. bermunajat kepada Allah di bukit Thursina. Di antara munajat yang dilantunkannya adalah, “Ya Allah, tunjukkanlah keadilan-Mu kepadaku!” Allah berkata kepadanya, “Jika saya menampakkan keadilan-Ku kepadamu, engkau tidak akan dapat sabar dan tergesa-gesa menyalahkan-Ku.”

“Dengan taufik-Mu, “kata Musa a.s., “aku akan dapat bersabar menerima dan menyaksikan keadilan engkau". Kemudian Allah berkata "Pergialah ke mata air anu! Bersembunyilah engkau di dekatnya dan saksikan apa yang akan terjadi.!”.

Musa pergi ke mata air yang ditunjukkan kepadanya. Dia naik ke atas sebuah bukit dan bersembunyi . tidak lama kemudian datanglah seorang penunggang kuda. Dia turun dari kudanya, lalu wudhu, dan meminum air. Setelah itu dia shalat dan meletakkan sebuah kantong di pinggirnya yang berisi uang seribu dinar.

Setelah selesai melakukan shalat, penunggang kuda tadi bergegas pergi dan sangat terburu-buru sehingga dia lupa terhadap kantongnya. Tidak lama kemudian datang seorang anak kecil untuk meminum air dari mata air itu. Ia melihat ada sebuah kantong lalu mengambilnya dan langsung pergi.

Setelah anak kecil pergi, datang seorang kakek yang buta. Ia mengambil air untuk di minum lalu wudhu dan shalat. Setelah si kakek selesai melakukan shalat, dating penunggang kuda yang ketinggalan kantongnya itu. Dia menemukan kakek buta itu sedang berdiri dan akan segera beranjak dari tempatnya. Si penunggang kuda bertanya, “Kamu pasti mengambil kantongku yang berisi uang disini.” Betapa kagetnya si kakek buta itu. Ia berkata, “Bagaimana saya dapat mengambil kantongmu sementara mataku tidak dapat melihat?” Penunggang kuda itu berkata, “Kamu jangan berdusta! Sebab, tidak ada orang lain selain kamu” Si kakek buta berkata, “Betul, saya berada disini sendirian. Namun, kamukan tahu mataku tidak dapat melihat.” Si penunggang kuda berkata, “Mengambil kantong itu tidak harus dengan mata, dungu! Tetapi dengan tangan! Walaupun mata kamu tidak melotot, tanganmu tetap dapat digunakan.

Akhirnya , si kakek buta itu dibunuh oleh penunggang kuda. Setelah si kakek buta dibunuh, Ia menggeledahnya untuk menemukan kantongnya. Namun, ia tidak menemukannya. Maka, ia pergi meninggalkan mayat kakek buta tersebut.

Ketika Musa a.s. melihat kejadian tersebut, dia berkata, “Ya Tuhan, sungguh saya tidak sabar atas kejadian itu. Namun, saya yakin Engkau sangat adil. Kenapa kejadian mengenaskan itu bisa terjadi?”

Tidak lama kemudian datanglah malaikat Jibril dan berkata, “Allah memerintahkan kepadaku agar menyampaikan penjelasan-Nya kepadamu. Dia menyebutkan bahwa diri-Nya sangat mengetahui hal-hal gaib yang tidak engkau ketahui. Dia menyebutkan bahwa anak kecil yang mengambil kantong adalah mengambil haknya. Dulu, ayahnya pernah bekerja di si penunggang kuda itu namun ia tidak bayar secara zalim. Jumlah yang harus dibayarkan kepada ayah anak itu adalah sejumlah uang yang ada dalam kantong itu. Adapun kakek buta adalah yang membunuh ayah anak kecil itu sebelum mengalami kebutaan.”

Sumber : Buku : "Menggapai Hikmah dari Kisah"  (Kumpulan Kisah dari Buku Imam Al - Ghazali), pengumpul : Isyan Basya, Hasyimi, Januari 2005.

sumber langsung : http://heirspage.blogspot.com/2012/06/kisah-tentang-ke-maha-adil-tuhan.html

Tuesday, November 27, 2012

Tentang Arti Hidup

Seorang pria mendatangi Master, "Guru, saya bosan hidup. Rumah tangga berantakan. Usaha kacau. Saya ingin mati."

Sang Master tersenyum, "Oh, kamu sakit. Dan penyakitmu pasti bisa sembuh."

"Tidak Guru, tidak. Saya tidak ingin hidup," tolak pria itu.

"Baiklah. Ambil racun ini. Minum setengah botol malam ini, sisanya besok sore jam 6. dan jam 8 malam kau akan mati dgn tenang."

Pria itu bingung. Setiap Master yang ia datangi selalu memberikannya semangat hidup. Tapi yang ini malah menawarkan racun.

Sampai rumah, ia minum setengah botol racun. Ia memutuskan makan malam dgn keluarga di restoran Jepang yg sudah lama tak pernah ia lakukan. Utk meninggalkan kenangan manis, ia pun bersenda gurau dgn riang. Sebelum tidur, ia mencium istrinya dan berbisik, "Sayang, aku mencintaimu."

Esoknya bangun tidur, ia membuka jendela kamar & melihat ke luar. Tiupan angin pagi menyegarkan tubuhnya. Dan ia tergoda utk jalan pagi.

Pulang ke rumah, istrinya masih tidur. Ia pun membuat 2 cangkir kopi. Satu utk dirinya, satu utk istrinya.

Istrinya merasa aneh, "Sayang, apa yg terjadi? Selama ini, mungkin aku salah. Maafkan aku ya?"

Di kantor, ia menyapa setiap orang. Stafnya pun bingung, "Hari ini, Boss kita kok aneh ya?". Ia menjadi lebih toleran, apresiatif terhadap pendapat berbeda. Ia mulai menikmatinya.

Pulang jam 5 sore, ternyata istrinya menungguinya. Sang istri menciumnya, "Sayang, sekali lagi mohon maaf, kalau selama ini aku selalu merepotkanmu." Anak-anak pun berani bermanjaan kembali padanya.

Tiba-tiba, ia merasa hidup itu begitu indah. Ia mengurungkan niatnya utk bunuh diri. Tetapi bagaimana dgn racun yg sudah ia minum?

Bergegas ia mendatangi sang Master, "Buang saja botol itu. Isinya air biasa. Kau sudah sembuh. Bila kau hidup dgn KESADARAN bahwa maut dapat menjemputmu kapan saja, maka kau akan menikmati setiap detik kehidupan. Leburkan egomu. Bersyukurlah!! Itulah rahasia kehidupan.. Itulah kunci kebahagiaan, jalan menuju ketenangan."


Sunday, October 28, 2012

Sepeda, Helicopter, dan Keselamatan


Ini benar-benar fiktif.

Alkisah ada seorang wanita bernama nona X.
 Kala itu dia sedang sendirian berada di lereng sebuah gunung Y.

Tak penting bagaimana asal muasalnya, ternyata di dekatnya ada sepeda kayuh, sepeda motor, mobil, dan Helicopter. Semuanya dalam keadaan siap jalan dan boleh dia bawa sesukanya.
Nona X sendiri bisanya hanya naik sepeda kayuh dan sepeda motor saja.
Tiba-tiba puncak gunung menyemburkan lumpur panas, bergerak ke arah nona X.
Maka dia harus segera menjauh dari puncak untuk menyelamatkan diri.
Maka apakah yang akan dilakukan nona X, apakah dia akan lari saja, atau menggunakan salah satu kendaraan di dekatnya?
…..
…..
…..
…..
Ya, tentunya dia akan memilih sepeda motor, karena itulah yang paling bisa dia andalkan untuk selamat dari bahaya lumpur panas. Itulah yang paling benar pada saat itu.
…..
Dia tak akan lari atau menggunakan sepeda kayuh, karena naik sepeda motor tentu bisa lebih cepat jalannya.
Dia salah kalau hendak memakai mobil karena dia tak bisa memakainya.
Dia salah kalau hendak menggunakan helicopter karena tak bisa mengoperasionalkannya, meskipun helicopter itu paling hebat.
Kenapa salah? Karena apabila dia memaksa memakai mobil atau helicopter, dia akan mengalami kebingungan dan lumpur akan bisa merenggut keselamatannya.
……
Maka bayangkanlah bahwa :
>>>kemampuan naik sepeda motor adalah kemampuan pemahaman terbaik yang saat ini kita miliki.
>>>Sepeda kayuh, sepeda motor, mobil dan helicopter adalah berbagai tingkatan pemahaman yang ada di masyarakat.
……
Sehingga boleh disimpulkan bahwa pada saat tertentu cara keselamatan yang benar bagi A belum tentu benar bagi B.
Karena tingkat pemahaman manusia berbeda-beda.
……
Seseorang tidak bisa menyalahkan yang lain hanya karena berbeda kemampuan pemahaman. Dan tidak tepat apabila mengajarkan sang bayi berlari, sedangkan duduk saja sang bayi belum mampu. Pengajaran terbaik adalah pengajaran yang mampu dijangkau dengan usaha terbaik yang diajar.
Yang terbaik adalah terus belajar dengan sebenar-benarnya niatan untuk memperbaiki diri.
……
Sekian.
Wallohu a’lam

Tuesday, September 11, 2012

Meraih Jiwa Pembelajar Sejati


Manusia terlahir tak tahu apa-apa. Pada masa kecil, sebelum dia bisa memutuskan sesuatu, lingkungan mengajarkan banyak hal kepadanya. Baik dan buruk, benar dan salah.

Sampailah dia di usia yang cukup untuk memutuskan arah hidupnya. Pada saat pertama kali dia mulai memutuskan, dia telah memiliki memori dan acuan yang tanpa sadar telah tertanam di dirinya, akibat pengajaran semasa kecil. Dan apa yang tertanam di dirinya itu, akan kuat berpengaruh pada bagaimana cara dia memandang dunia selanjutnya.

Maka dia telah memiliki apa yang dinamakan kepercayaan, karakter, ilmu, wawasan, pengalaman masa lalu dan keinginan dalam skala tertentu.

Lalu dia melihat dunia dalam perbedaan-perbedaan yang luar biasa. Perbedaan pendapat, perbedaan keinginan, perbedaan tujuan yang di antaranya memunculkan perdebatan, percekcokan, bahkan pertumpahan darah. Dia tak tahu siapakah yang benar, siapakah yang salah.

Dan dia pun mendapat informasi tentang Tuhan sebagai yang menciptakan alam raya ini. Tuhan pemilik kebenaran. Tuhan yang tahu mana yang benar dan mana yang salah. Tuhan yang kekuatan dan kekuasaannya tak terbatas.

Maka dia memutuskan untuk mengambil Tuhan sebagai Gurunya. Yang akan menuntunnya mengarungi sisa hidupnya dari tempat dia berdiri sekarang,
dari apa yang telah ia jalani sejauh ini,
dari kepercayaan, karakter, ilmu, wawasan, pengalaman dan keinginan yang telah melekat sebelumnya.

Tapi sejauh dia memandang, dia sungguh tak tahu apa-apa tentang kebenaran, yang dia tahu adalah hanya Tuhan yang tahu tentang kebenaran. Bagaimana dia selanjutnya bertindak?

Di tengah ketidak-tahuannya tentang kebenaran, dia berusaha melakukan saja apa yang dia anggap paling baik.

Bermohonlah dia kepada Tuhan untuk ditunjukkan mana jalan yang benar menurutNya. Bermohon sambil mengakui kelemahan dan kebodohannya,
Bermohon petunjuk sambil mengembalikan lagi kepadaNya apa saja yang telah diyakini dan dijalani selama ini.
Tak mau ia menyembunyikan sesuatupun di hadapan Gurunya. "inilah Guru, aku kembalikan semua pemahamanku, hanya Engkau yang tahu hakikat kebenarannya. Selanjutnya bimbinglah aku".

Maka pada saat itu dia dalam keadaan kosong,
berserahlah dia atas apa yang akan dikehendaki Tuhan kepadanya setelahnya, karena percaya bahwa Tuhan adalah Guru sejati, yang tak akan mencelakakannya.

Setelah meminta petunjuk itu, dia kembali menjalani kehidupannya.

---------------------------------

Sekali lagi, sejauh dia memandang, dia sungguh tak berhasil tahu tentang hakikat kebenaran.

Di tengah ketidak-tahuannya itu, dia lakukan apa yang dia anggap paling baik. Membaca kitab yang dianggap suci, memperhatikan alam, memperhatikan masyarakat, memperhatikan dirinya sendiri, dan berbuat apa yang dia anggap terbaik berdasar pemahamannya, berlepas dari keinginan-keinginan di luar kebutuhan.

Dia bermohon lagi kepada Tuhan untuk ditunjukkan mana jalan yang benar menurutNya. Bermohon sambil mengakui kelemahan dan kebodohannya,
Bermohon petunjuk sambil mengembalikan lagi kepadaNya apa saja yang telah diyakini dan dijalani selama ini.
Tak mau ia menyembunyikan sesuatupun di hadapan Gurunya. "inilah Guru, aku kembalikan semua pemahamanku, hanya Engkau yang tahu hakikat kebenarannya. Selanjutnya bimbinglah aku".

Maka pada saat itu dia dalam keadaan kosong,
berserahlah dia atas apa yang akan dikehendaki Tuhan kepadanya setelahnya, karena percaya bahwa Tuhan adalah Guru sejati, yang tak akan mencelakakannya.

Setelah meminta petunjuk itu, dia kembali menjalani kehidupannya.

---------------------------------

Lagi lagi, sejauh dia memandang, dia sungguh tak pantas menyatakan diri tahu tentang hakikat kebenaran.

Di tengah ketidak-tahuannya, tetap dia lakukan apa-apa yang dia anggap paling baik.
Kembali dia membaca kitab yang dianggap suci, memperhatikan alam, memperhatikan masyarakat, memperhatikan dirinya sendiri, dan berbuat apa yang dia anggap terbaik berdasar pemahamannya, berlepas dari keinginan-keinginan di luar kebutuhan.

dia memohon lagi kepada Tuhan untuk ditunjukkan mana jalan yang benar menurutNya. Memohon sambil mengakui kelemahan dan kebodohannya,
memohon petunjuk sambil mengembalikan lagi kepadaNya apa saja yang telah diyakini dan dijalani selama ini.
tak mau ia menyembunyikan sesuatupun di hadapan Gurunya. "inilah Guru, aku kembalikan semua pemahamanku, hanya Engkau yang tahu hakikat kebenarannya. Selanjutnya bimbinglah aku".

Maka pada saat itu dia bermohon dalam keadaan kosong lagi, benar-benar kosong, nol dan tak tahu apa-apa lagi.
berserahlah dia atas apa yang akan dikehendaki Tuhan kepadanya setelahnya, karena percaya bahwa Tuhan adalah Guru sejati, yang tak akan mencelakakannya, justru akan membawanya pada kenikmatan terbaik.

Setelah meminta petunjuk itu, dia kembali menjalani kehidupannya.

---------------------------------

Begitulah seterusnya, hingga akhir hayatnya

**********


Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. 

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. 

Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. 

Yang menguasai di Hari Pembalasan. 

Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan. 

Tunjukilah kami jalan yang lurus, 

(yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri ni'mat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. 

(Al Fatihah: 1-7)

**********

wallohu a'lam

Tuesday, September 4, 2012

Kemuliaan Hati Sang Nabi SAW



Sebuah Kisah.
 
Beberapa hari setelah Rasulullah SAW wafat, syaidina Abu Bakar Shidiq RA dibai'at menjadi khalifah pertama. Tugas menjadi seorang khalifah tentulah sangat berat. Syaidina Abu Bakar Shidiq  berusaha memimpin seperti kepemimpinan Rasulullah SAW dan beliau ingin sekali menjalankan hidup seperti hidup baginda Rasulullah SAW.

Untuk bisa mencapai tujuannya tersebut syaidina Abu Bakar RA bertanya pada Aisyah Rda (istri Nabi). "Wahai umi amirul mukminin, apa saja kebiasaan Rasulullah semasa hidup selain ibadah yang belum aku kerjakan?". Aisyah menjawab "Semua kebiasaan baginda Nabi telah engkau laksanakan, kecuali satu hal, yaitu; Setiap hari Baginda Nabi selalu mengambil makanan dari rumah dan makanan tersebut beliau bawa ke sudut kota Madinah, di sana beliau menyuapi seorang nenek Yahudi yang buta matanya."

Abu Bakar pun segera mengambil senampan makanan di dalam rumahnya dan pergi ketempat yang disebutkan Aisyah untuk menyuapi nenek buta tersebut. Sesampai di sudut kota Abu Bakar menemukan seorang nenek pengemis buta yang tidak terurus, sepertinya memang perempuan tua itu sedang kelaparan.

Tapi anehnya mulut perempuan tua itu selalu mengoceh dengan kata-kata yang menghina dan mencaci Rasulullah SAW : “Wahai saudaraku jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya kalian akan dipengaruhinya”. Menurut orang-orang di sekitarnya memang setiap hari nenek itu begitu, selalu menghina dan mencaci maki Baginda Nabi SAW.

Awalnya Abu Bakar enggan menyuapi nenek yang menghina dan mencaci Rasulullah tersebut. Namun karena teringat kata-kata Aisyah bahwa setiap hari baginda Nabi selalu menyuapi nenek tersebut hingga menjelang wafatnya, maka Abu Bakar pun menghampiri dan menyapa perempuan tua tersebut. "Wahai nenek diamlah, aku akan menyuapimu" sapa Abu Bakar. Nenek itu menjawab "Terima kasih, tapi sebelum itu, aku hanya ingin mengingatkan engkau hai orang baik, jika kau mendengar nama Muhammad, jauhilah dia karena sesungguhnya dia adalah pembohong dan pendusta."

Kemudian dengan hati-hati Abu Bakar menyuapi nenek buta itu.Namun setelah dua suapan, nenek tersebut tiba-tiba menepis tangan Abu Bakar sambil berkata "Siapakah kamu?" Abubakar menjawab, “Aku orang yang biasanya”. Sang nenek membantah: "Bukan. Kau bukanlah orang yang biasa menyuapi aku makanan, aku tahu orang itu sangat lembut dan sopan. Kalau dia sudah dekat aku tau kalau dia yang datang. Kau pasti bukan orang itu !"

Selama ini memang baginda Nabi tidak pernah mengenalkan namanya ketika sedang menyuapi sang nenek buta yang sering mencaci secara langsung tanpa disadarinya. Dalam menyuapi, Nabi biasa menghaluskan makanan terlebih dulu baru dia suapkan langsung ke mulut sang nenek.

Mendengar ucapan nenek tersebut Abu Bakar menangis dan berkata "Wahai perempuan tua, sesungguhnya orang yang biasa menyuapimu setiap hari itu sekarang telah tiada, karena dia telah wafat beberapi hari yang lalu. Dialah Muhammad yang selalu menyuapimu. Dialah Muhammad yang selalu engkau caci maki dan kau hina."

Mendengar penuturan Abu Bakar tersebut, sang nenek tersungkur menangis tersedu-sedu dan sangat menyesalinya, akhirnya ia pun segera menyatakan syahadat di hadapan Abu Bakar.


Saturday, December 31, 2011

Ini bukan diary

Sragen, 4 Oktober 2011 - 11.05 AM

Hai diary..
Ini hari keduaku menghirup udara di planet bumi yang melayang di konstelasi galaxy bimasakti. Berminggu-minggu sebelumnya aku berdiam di perut seorang ibu untuk mengalami pembentukan raga yg sempurna. Inilah masa-masa awal pengembaraanku diary, setelah turun dari alam ruh ke alam materi ini. Ini masa-masa awal aku disebut manusia..

Diary,
Sekarang aku tahu, di bumi aku dititipkan Alloh ke sebuah keluarga di suatu negeri kepulauan equator yang namanya Indonesia. Tepatnya di bagian tengah pulau Jawa, di situ ada sebuah dusun kecil di Sragen.
Kelihatannya ini sebuah keluarga yang biasa, yang tinggal di antara ratusan juta penduduk negeri yang di kalangan malaikat suka disebut-sebut sebagai negeri yang kurang makmur padahal potensi tanah dan airnya melimpah, mungkin disebabkan kurangnya ilmu, banyaknya korupsi, dan banyaknya kekayaan alam yang diangkut kawanan orang dari negeri lain.
Dengar-dengar negeri ini juga gemar bertikai di antara mereka sendiri. Aneh ya? Tapi hanya Alloh jua yang tahu..

Diary,
Semula aku ragu apakah harus senang atau sedih menjalani kehidupan di bumi ini. Tapi sejenak kemudian aku sadar bahwa ini kehendak Tuhanku, dan Tuhanku itu Maha Pengasih dan Penyayang, jadilah aku siap menjalani pengembaraan ini dengan penuh semangat kebaikan.
Hmm..
Begini ya rasanya diary, kalau menempati raga.. Kadang ngerasa dingin.. kadang panas. Kadang haus.. kadang pengin pipis. Aku jadi terkena efek grafitasi, dan kecepatan gerakku pun terbatas.

Eh diary,
Memiliki raga ini sungguh karunia yang luar biasa.. Aku bisa ngerasain berbagai kenikmatan di sini. Misalnya, air susu dari ibu ini sangat menyegarkan, sampai aku begitu semangat meminumnya.. Sungguh, bumi ini memang tempatnya nikmat Alloh yang tak terhitung. Pantas kebanyakan manusia seakan gak mau meninggalkan kehidupan di bumi ini ya.. Padahal sehabis hidup ini kan ada pilihan hidup yg nikmatnya lebih hebat dan abadi?
Selain itu semua,
Dengan raga ini aku bebas bertindak di bumi, mau begini atau begitu bisa, karena anggota tubuhku ini semuanya nurut kalau aku perintah.

Diary,
Tuhanku menyatukan aku dengan tubuhku untuk hidup di bumi ini sebenarnya tujuannya cuman satu, untuk memuliakan-Nya saja. Di bumi ini aku bebas berkehendak, tapi suatu saat nanti Dia pasti akan meminta tanggung jawabku. Kamu atau siapapun nggak akan bisa ikut campur diary, karena ini urusanku seorang dengan Tuhanku. Benar-benar ini hanya antara aku dan Dia saja.
Dia Tuhanku Yang Baik, pasti memberikanku yang terbaik dan adil. Dia sudah menyiapkan bekal petunjuk yang selengkap-lengkapnya untuk mengarungi belantara kehidupan yang tak terukur kompleksitas dan kecanggihannya ini. Kelak ketika sudah cukup usiaku, Tuhanku pasti memberiku jalan untuk mencapai petunjuk itu.

Sekarang tlg kau jawab diary,
Apakah kau yakin nanti aku akan mengikuti petunjuk Tuhanku itu?
Yakin ya? Pasti? Alhamdulillah..makasih diary..
Masalahnya aku heran, koq karena kebebasan ini aku dengar banyak manusia yang lupa diri, lupa Tuhan? Entah lupa atau pura-pura lupa ya? Apa karena dia merasa sudah pintar lalu mengabaikan petunjuk-Nya? Atau dia coba menebak Tuhannya Yang Pengasih dan Penyayang itu akan memaklumi segala yang diperbuatnya? Atau dia sudah termakan hasrat kebebasan sehingga benar-benar lupa dengan Tuhannya?
Wah, termakan tipu daya dunia kan namanya, mereka yg lupa itu? Krn sampai mengabaikan petunjuk Alloh yang menciptakan alam raya ini dan lebih percaya dengan alam pikirannya sendiri..?

Ah diary,
Aku tak mau seperti mereka yang lupa itu, karena aku yakin mereka tak akan bisa bicara saat diminta tanggung jawabnya di hadapan Alloh SWT..
Kau tahu kan diary, akan banyak pertanyaan saat kehidupan bumi ini berakhir. Akal ini buat apa, tangan ini buat apa, mata ini buat apa, dan semua pertanyaan yang teliti sempurna tanpa ada yang tertinggal sedikitpun.
Kau tahu kan diary, setiap karya Alloh pasti teliti, tampak nyata dari bagaimana teraturnya alam raya yang luas ini berawal dari teraturnya partikel2 terkecil.

Kalau kau bisa, doakanlah aku diary,
Agar kelak aku bisa terus sadar..
Sadar utk selalu memuliakan-Nya dengan mengikuti petunjuknya.
Sadar untuk menggunakan nikmat kebebasan ini bukan untuk membangkang, tapi justru untuk menyatakan cintaku kepada-Nya.. Cinta yang tak dipaksakan oleh Tuhanku, tapi cinta yang bebas dan tulus dariku.
Kalau kau bisa, doakanlah aku diary,
Agar keluarga yg Alloh takdirkan aku kepadanya ini menjadi keluarga yang bisa terus menerus menjaga kesadaranku untuk selalu paham tentang maksudNya menurunkanku ke Bumi ini. Agar keluarga ini tak ikut-ikutan dg arus gelombang negatif yg mengalir deras di negeri ini, dan bisa tetap berjalan menuju ridlo-Nya.

Diary, sampaikan pada keluargaku, karena aku blm bisa berkata-kata  dengan mereka.
"Ibu dan ayah, terimakasih atas semua kebaikanmu kepadaku yang telah lalu dan insya Alloh yang akan datang. Alloh pasti membalas semua kebaikan yang tulus, dan semoga aku juga bisa membalas budi walaupun tak akan sebanding. Semoga Alloh memuliakanmu dan kelak Allohpun menyuruhku taat kepadamu selama ibu dan ayah tak menyuruhku mendurhakai-Nya.

"Kedua kakakku, kini adikmu udah datang.. Semoga kita semua tumbuh besar dalam masa bermain dan belajar yang bisa menumbuhkan semua potensi kita seutuhnya sebagai manusia, karena raga ini adalah amanah-Nya yang tdk boleh ada yang ditelantarkan. Semoga keluarga kita bisa terus saling menyayangi di dalam lindungan Alloh yang maha Pengasih dan Penyayang"

Diary,
Orang tuaku menamaiku "Ahmad Hanun Daffa"

Saturday, October 31, 2009

Renungan leher kaku

Saat leher kaku seperti sekarang ini, kesempatan yg baik buat menghayati nikmatnya hari2 kemarin bisa menggerakkan kepala dg bebas :)

Ternyata byk sekali hal yg kita lupakan padahal itu kenikmatan yang luar biasa. Selalu berpikir mencari sesuatu di luar, melupakan kebaikan yg melekat di dalam diri. Ucapan syukur menjadi barang langka ketika yg di luar tidak bersahabat.


Apabila dicermati, kebaikan yg datang dr luar sangatlah secuil dibanding kebaikan yg sudah kita miliki. Kebaikan dalam diri bahkan tak ternilai. Suatu ilustrasi, andaikan ada seorang yg tertimpa penyakit, tentu ia akan mengorbankan hartanya, mengalahkan hobinya, demi mengembalikan kesehatannya.

Karenanya, pantaslah bila kita, siapapun kita, senantiasa bersyukur dan menjaga kenikmatan yg telah dianugerahkan Allah kepada kita.

Kenikmatan yg ada ini dianugerahkan secara mudah (tanpa kita meminta), maka memeliharanya pun tentu mudah, cukup dengan menapaki hidup dalam kebaikan. Tubuh kita baik, sehingga akan tumbuh selaras dalam media kebaikan. Sebaliknya, ia akan rusak / tersiksa oleh kejahatan, kebohongan, kenistaan dan berbagai sikap negatif lainnya..

So, apabila leher kita kaku, atau kaki kesemutan (tidak menunggu sampai tertimpa sesuatu yang fatal), semoga hal-hal "kecil" itu sudah cukup mampu mengingatkan diri untuk menengok ke dalam, betapa melimpahnya kenikmatan yang telah dan tengah kita terima... Hiruk pikuk di luar pun tidak membuat kita silau, merasa kurang beruntung bahkan menderita...

Dan pada akhirnya kita akan selalu bersyukur atas nikmat, dengan cara memaksimalkan potensi yg kita miliki : hati - pikiran - tubuh, dengan sebenar-benarnya...

Amiin.

Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT