Melanjutkan artikel sebelumnya, perlu untuk melihat
bagaimana penyebaran pesan Kitab Suci yang terjadi di antara sesama
manusia. Menyebar pesan di sini berarti mengantarkan cara hidup hingga
nilai kebenaran. Tak bisa dipungkiri bahwa dalam hal ini kadang terjadi
keributan antar sesama yang mungkin saja dikarenakan cara pandang yang
kurang tepat terhadap apa itu “pesan dari Tuhan”.
Mengantarkan kebenaran Kitab Suci pada satu sisi
adalah sebagai perwujudan dari rasa kemanusiaan. Ibarat seseorang yang
sedang berjalan bersama seorang kawannya yang buta, maka ketika
mendapati kawannya yang buta hendak menuju lubang berbahaya maka dia
pasti memberitahukan kepada kawannya itu agar segera berbelok.
Di sisi lain, mengantarkan kebenaran Kitab Suci
berarti juga mengantarkan sesuatu nilai yang tinggi yang dapat
diperdebatkan keberadaannya apabila dibawa pada landasan realitas
empiris.
Namun sejatinya, mengantar kebenaran Kitab Suci ini
tidak hanya diperuntukkan kepada orang lain, melainkan juga kepada diri
sendiri sebagai sasaran terpenting.
Tentang Bukti Kebenaran Kitab Suci
Mengantarkan kebenaran Kitab Suci terkait erat
dengan bukti. Dan, Tuhan telah menyatakan bahwa bukti kebenaran Kitab
Suci ada pada diri sendiri dan alam semesta, karenanya manusia beriman
pastinya percaya penuh akan hal itu.
Namun kepercayaan saja tentu kurang sempurna karena
manusia adalah makhluk yang terdiri dari batin dan lahir sekaligus,
sedangkan kepercayaan baru menyentuh sisi batiniah saja. Manusia yang
beriman seharusnya mengetahui bukti kebenaran Kitab Suci yang pastinya
bermanfaat. Karena selain untuk memperkuat keyakinan, hal itu juga
sebagai tanda bahwa ia telah mempraktekkan pesan-pesan Tuhan, bukan
hanya keimanan yang kosong tanpa praktek dan tak bermakna (keimanan
palsu). Dan bukti yang diketahui itu sekaligus sebagai anugerah (hadiah)
yang nyata.
Sejalan dengan yang Tuhan nyatakan, maka pembuktian
dapat ditemukan pada diri sendiri, dan pada alam semesta. Dan sebagai
manusia yang terbatas kemampuannya, maka pembuktian yang paling mudah
(dan karenanya menjadi pengupayaan minimal) adalah pada batasan yang
paling sempit, yaitu pada batin (masing-masing) : apakah batinnya merasa
lebih tenang dengan keimanan, atau tidak.
Seiring dengan kemampuan yang lebih baik, maka
batasannya bisa lebih luas, misalkan pada keadaan tubuhnya : kesehatan,
kejujuran, ketekunan, kesabaran, disiplinan, dll.
Lebih luas lagi pada keluarga yang sama-sama
beriman dengan baik : apakah bahagia, harmonis, tenteram, tercukupi
kebutuhan yang diinginkan, dll.
Lebih luas lagi pada masyarakat, negara, bahkan
dunia apabila semuanya beriman dengan baik. Namun ketika realitasnya tak
semua manusia beriman, maka hanya dengan analisa (dari ahlinya) lah
pembuktikan dapat dilakukan.
Keluasan lingkup pembuktian juga berlaku pada
komponen lingkungan, apakah penerapan Kitab Suci dapat memberikan
kontribusi positif bagi lingkungan, ataukah tidak. Hal ini tentunya
hanya dapat dilakukan oleh sebagian ilmuan yang mencapainya dengan
metoda yang benar.
—
Namun perlu dimaklumi, bahwa dikarenakan kebenaran
Kitab Suci pada batasan yang luas yaitu di level lingkungan dan level
masyarakat memiliki dimensi yang kompleks untuk dilakukan oleh komunitas
ilmuan yang beriman (sepertinya sebagian besar ilmuan dunia tidak
beriman kepada Kitab Suci), maka bukti-bukti ilmiah sahih (yang terserak
di antara banyaknya bukti ilmiah sementara/ belum sahih) hanya menjadi
semacam bukti bisu saja bagi manusia tentang kebenaran Kitab Suci.
Ya, hanya bukti bisu karena sedikit sekali ilmuan
yang berminat, berkompeten sekaligus bertanggung jawab dalam upaya
menarik relasi pesan Kitab Suci dengan bukti ilmiah sahih. Kalau toh ada
yang mampu, belum tentu ia akan mendapat pengakuan dari komunitas
global ilmuan, bahkan tidak jarang muncul pertentangan. Jadilah
masyarakat terpolar pada setidaknya dua kutub pendapat para ilmuan :
yang mengakui bukti kebenaran Kitab Suci (jumlahnya sangat sedikit) dan
yang tidak mengakui (jumlahnya sangat banyak). Belum lagi adanya
pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab dengan mengklaimkan hoax
sebagai bukti Kitab Suci, maka bertambah lagi kutub pandangan di
masyarakat.
Maka menjadi sesuatu yang sulit untuk menyampaikan
bukti kebenaran Kitab Suci yang batasannya luas (yaitu lingkungan dan
masyarakat) kepada manusia yang lain. Tak jarang tuduhan klaim sepihak
terlontar kepada para penyampai. Terlebih apabila penyampaian disertai
dengan membabi buta, hal itu bisa berakibat kontraproduktif dan justru
dapat merusak nilai keimanan diri sendiri.
Maka yang paling bermanfaat adalah pengkomunikasian
internal (kepada diri sendiri) sehingga beragamlah bukti yang
didapatkan dari mulai lingkup diri sendiri hingga lingkup di luar diri.
Implikasinya adalah semakin bersemangat dalam mempraktekkan Kitab Suci
dalam peri-kehidupan yang ujung-ujungnya akan menghasilkan manfaat lebih
dan bukti-bukti baru yang semakin mantap. Dan bukti-bukti baru itu
mungkin juga akan dirasakan secara nyata oleh lingkungan serta
masyarakat.
—–
Kembali ke awal, terkait cara pandang tentang apa itu “pesan dari Tuhan” setidaknya ada tiga hal yang perlu untuk dipahami :
- Kitab Suci adalah pesan Tuhan. Dan “pesan dari Tuhan” selamanya tak bisa beralih menjadi “pesan
dari manusia”, karena manusia tak akan sanggup mengungkap keseluruhan
rahasia dari pesan itu. Apa yang bisa menjadi “milik” manusia adalah
sebatas yang dipahami dan dibuktikan dari pesan itu. Konsekuensinya
adalah tak bisa manusia memaksakan suatu pesan kepada orang lain.
Manusia hanya sebatas menyampaikan pesan, dan boleh memberikan bantuan
pemahaman orang lain atas pesan apabila memiliki pemahaman yang lebih
baik.
- Kitab Suci diturunkan untuk yang memahami bahasa, utamanya
adalah manusia. Sedangkan manusia terhadap manusia lain adalah setara.
Maka kapanpun seorang manusia memahami isi pesan, seketika itu juga
dialah yang mendapat konsekuensi atas pesan. Melempar pesan kepada yang
lain tidak melepaskan diri dari konsekuensi pesan atas diri dan aset
yang diberikan Tuhan.
- Kitab Suci bukanlah sesuatu yang bekerja sendiri. Ia adalah
pasangan dari aset yang diberikan Tuhan kepada manusia utamanya akal dan
hati. Karenanya pemaknaannya tidak bisa dilepaskan dari kinerja akal
dan hati, dalam arti selalu diperlukan penganalisaan sekaligus
perenungan terhadap setiap pesan. Dan ketika pesan dilaksanakan oleh
manusia yang terbatas, maka apa yang dikerjakan manusia itu tidak bisa
diklaimkan telah mencerminkan isi pesan seutuhnya.
Sebuah ilustrasi sederhana tentang beberapa maksud di atas :
A adalah seorang owner perusahaan roti dan ahlinya,
sedangkan B, C, dan D adalah pekerja barunya yang level ketiganya sama,
masing-masing dibekali alat dan bahan pembuat kue yang sama persis.
Suatu
ketika A ingin memberi instruksi ke pekerjanya yang sangat amatir, tapi
kali ini ia sedang di luar kota sehingga hanya bisa mengirim pesan via
email. Email ditujukan ke B, karena C dan D tidak kenal internet. Isi
email tersebut sbb:
Dear Mas B,
Hari ini tolong kamu buat roti yang mengembang bagus ya. Tipsnya:
Gunakan 0,5 kg tepung terigu, sebaiknya campur
terigu dengan tepung lainnya seperti tepung gandum namun dengan total
campurannya 0,5 kg. Selain itu, untuk menghasilkan roti yang terbaik,
jangan terlalu sering menyentuh adonan roti dengan tangan saat menguleni
roti. Ragi pada roti tidak akan mengembang sempurna ketika terlalu
banyak ditekan. Istirahatkan sejenak adonan roti agar mengembang
sempurna, dan membentuk karbondioksida yang cukup untuk melembutkan
tekstur roti.
Oya, sampaikan ke Mas C dan Mas D untuk buat juga
Antara B, C dan D masing-masing memiliki pengalaman
yang berbeda-beda di bidang pembuatan kue, tapi belum ada yang punya
pengalaman membuat roti yang mengembang.
Nah, sehabis baca email itu reaksi B ada beberapa kemungkinan, di antaranya :
- B tidak mencoba sama sekali, hanya menyampaikan email ke C dan D. C
dan D pun praktek dan menghasilkan roti yang belum begitu mengembang.
>> reaksi B ini salah besar menurut Owner karena sudah diberikan
alat dan bahan tetapi tidak digunakan untuk bekerja.
- B coba-coba sendiri, namun dia gagal karena rotinya hanya
sedikit mengembang. Dia menyembunyikan email itu, dan hanya berceramah
sok tahu ke C dan D berdasar pengalamannya tadi. Bercampurlah kata-kata
owner dengan kata-katanya sendiri. C dan D pun mengikuti B dan coba
membuat, lalu gagal. Lalu B mengolok-olok kedua temannya itu sebagai
orang bodoh >> reaksi B ini salah menurut Owner.
- B mencoba dulu sendiri, namun gagal. Lalu B memberi tahu ke C
dan D tentang isi email apa adanya. Dia bersikap pasrah (netral) saja
kalau hasil dari C dan D lebih baik darinya. Kalau toh C dan D tak mau
mempraktekkan isi email itu, B juga tetap akan netral saja toh dia sudah
menyampaikan. >> reaksi B ini dimaklumi oleh Owner, dan Owner
berpesan ke B agar mau berusaha lebih keras agar berhasil membuat roti
mengembang.
- B coba-coba sendiri dan menurutnya lumayan berhasil : cukup
mengembang. Lalu dia menuntun C dan D untuk mempraktekkan apa yang sudah
dipraktekkan. >> reaksi B ini kurang tepat menurut Owner, dan
Owner berpesan ke B “lain kali tolong C dan D biar baca emailku juga,
dia mungkin bisa buat roti mengembang lebih sempurna daripada punyamu”
- B langsung mengajak C dan D untuk sama-sama membaca email dan
diskusi serta praktek berdasar pengalaman ketiganya. Mereka tidak ada
yang merasa lebih unggul dari yang lain. >> reaksi ini paling
benar menurut pandangan Owner.
Demikian.
Wallahu a’lam