Ini adalah respon sederhana terhadap tulisan Kompasioner yang berjudul “Logika Tuhan, Logika Matematika”
Kenapa aljabar / aritmatika tetaplah sebagai ilmu
ide (bukan ilmu kongkrit), karena bilangan sebagai komponennya tak bisa
didapatkan oleh akal secara sempurna di dunia empiris. Yang ada hanya
pendefinisian yg sifatnya terbatas/ pendekatan saja.
Misal dalam operasional matematika ada variabel “1
kelereng”. Apakah kita bisa mendapatkan 1 kelerang “murni” pada level
empiris? Saya yakin tidak bisa, karena sebuah kelereng pasti mengandung
“zat2 & gelombang non-kelereng” yang menempel di kelereng itu saat
sebuah kelereng kita tunjuk. Maka komponen operasional “1 kelereng” yang
ada di atas kertas pada dasarnya tetaplah suatu ide belaka.
—–
Apabila kita hendak menyandingkan antara Tuhan dan Matematika, maka menurut saya begini :
Bilangan-bilangan dan operasional standar
matematika itu identik dengan makhluk, bukan tentang Tuhan itu sendiri.
Sedangkan Kegaiban Tuhan itu ada pada ranah “Tak Terhingga” ( ~ ) yang
merupakan hasil operasional istimewa : Bilangan dibagi dengan Nol ( ~ = x / 0 ). “Tak Terhingga” tak mampu tersusun oleh bilangan, tetapi bilangan-bilangan adalah bagian dari “Tak Terhingga”.
Kesimpulan dari semua uraian di atas, bilangan itu
sendiri sudah merupakan sesuatu yang “tak dapat sempurna dijamah”,
sedangkan “Tak Terhingga” itu merupakan sesuatu yang “mustahil untuk
dicapai” oleh bilangan.
Tuhan mustahil dicapai oleh manusia dengan
keterbatasan dirinya. Tuhan lah yang menunjukkan kepada manusia suatu
cara pengenalan kepada diriNYA melalui caraNYA sendiri, yang bisa
disebut dengan suatu kode. Kode itu adalah agama, yang apabila
dibahasakan secara matematika (sebagai bahasa yang paling dasar) adalah
operasional x / 0, di mana x = bilangan.
Lihatlah bagaimana x / 0 yang bisa = ~ . Bandingkan
dengan kemampuan manusia kalau toh mencapai
999.999.999.999.999.999.999.999 sekalipun, maka itu tetaplah tidak bisa
menjangkau ~ .
Sekilas bisa dibantah, bukankah kode “x / 0” bisa ditemukan sendiri oleh manusia?
Ya, bisa karena x / 0 hanyalah penemuan matematika
yang sifatnya ide belaka. Dalam tataran realitas manusia, mencapai
keadaan 0 mustahil bisa, sebagaimana di depan diterangkan bahwa untuk
mendapatkan fakta 1 kelereng, kita tak akan mampu. Maka sekali lagi,
manusia yang terbatas tak bisa membuat jembatan antara dirinya dengan
Tuhan. Tetapi Tuhan yang tak terbatas itulah yang bisa.
No comments:
Post a Comment