Sikap bersabar yang diajarkan oleh Tuhan ternyata
sebuah pengajaran yang sangat mendasar, tentang penerimaan diri sebagai
makhluk. “Sadarilah wujudmu sebagai makhluk”
Coba kita lihat:
- Makhluk berupa materi, dan materi pasti ber-ukuran. Dengan ukuran, maka ada jarak, ada ruang. Untuk berpindah ke tempat yang diinginkan butuh bergerak. Bergerak melewati suatu jalan yang terdiri dari satu persatu titik. Maka pasti ada proses untuk melewati satu per satu titik sebelum sampai ke titik yang diinginkan. Proses memakan waktu, sehingga butuh kesabaran.
- Dengan ukuran, maka berbilang, materi pun jadi banyak. Sesuatu yang banyak, suatu saat mengalami antrian untuk mencapai tujuan yang sama. Maka manusia butuh kesabaran.
- Dengan ukuran maka ada perbedaan-perbedaan energi. Maka ada perbedaan zat, dan perbedaan organisasi zat, sehingga ada perbedaan makhluk. Dalam makhluk yang sejenis pun ada perbedaan energi. Maka lagi-lagi manusia butuh kesabaran dalam menghadapi perbedaan.
Maka sudahlah, bersabarlah saja jadi makhluk,
itulah takdir kita. Teknologi bisa saja mempermudah, tapi takdir
berproses selamanya tak akan punah. Takdir mengantri selalu ditemui.
Dan nikmatilah saja, karena dengan
perbedaan-perbedaan energi, maka ada penambahan dan pengurangan energi.
Dan pada hal-hal energi itu sesungguhnya terdapat rahasia besar, yaitu
peluang makhluk untuk merasakan kenikmatan. Bahkan Tuhan selalu
memberikan nilai tambah dengan mekanismeNYA. Maka bergeraklah di antara
tingkatan energi itu lalu carilah kenikmatan sebanyak-banyaknya. Dan
jauhilah peluang menjadi pesakitan, dan jadilah makhluk yang sukses.
Tapi, eitss.. rupanya ada yang tak terima dijadikan makhluk?
Si nafsu ya? Ini dia, nafsu tak ingin ada proses.
Nafsu tak ingin mengantri. Nafsu inginnya yang langsung-langsung, seolah
mau jadi tuhan saja. Wah wah.., kendalikanlah nafsu itu.. bahaya lah,
karena ia hendak menentang takdir. Alih-alih membawa pada kenikmatan-kenikmatan, yang ditemui nanti malah kesengsaraan…waspadalah…!
No comments:
Post a Comment